Titik Koma

Terlintas dalam benakku tentang kita yang dahulu ada. Kau yang memberi hangat pada relung jiwa, sedang aku merangkul ringkih hatimu kala badai menerpa. Kau dan aku dulunya adalah kita, dua insan yang mabuk oleh cinta di masa lampau. Kini, balada itu telah hilang tinggal gurau.

Dahulu, segala terasa baik-baik saja. Namun kini, kita tak lagi sama. Kau dan aku terjebak dalam titik koma. Aku berupaya mempertahankan cinta, sedang kau bersikeras menghentikan cerita. Kisah kasih menjelma derita serta racun yang tak kunjung habis kita tenggak.

Lantas, haruskah aku memperjuangkanmu? Memperjuangkan segala yang tak bisa diselamatkan? Tentu kita sepakat, bahwa mengekang apa yang ingin pergi hanya akan jadi sia-sia. Untuk apa menahan yang tak ingin dipertahankan? Melepasmu, pada akhirnya, menjadi pedih neraka yang harus kujalani sendirian.

Kau adalah bahagiaku dan kupikir selamanya akan begitu. Hingga kusadari, saat kau pergi, tak ada yang mampu mempertanggungjawabkan kebahagiaanku kecuali diriku sendiri. Terlalu banyak cinta yang kuberi tatkala kita masih bersama, hingga aku terlupa, sebaik-baiknya cinta adalah apa yang harus kuserahkan pada diri sendiri sebelum sanggup memberinya pada sesiapa.

Kini, kita berada di jalannya masing-masing. Aku dengan diriku, dan kau dengan dirimu sendiri. Kusadari, cinta sejatinya hanyalah perihal mengikhlaskan. Demi keinginanmu, aku harus menerima segala, meski mengorbankanku menjadi harga yang harus dibayar tuntas. Namun kuyakini, segala yang pernah sakit kelak akan sembuh jua. Semua yang telah hilang nanti akan terganti pula. Semoga kelak, ada ihwal baik yang telah disiapkan semesta entah itu bagiku juga bagimu, yang sanggup mengobati luka serta mengubur segala duka, serta mampu mencintai diri kita sebagaimana adanya.

Kuterima kenyataannya bahwa kita tak lagi seiring sejalan. Akan tetapi, mendoakan kebaikanmu tak henti-hentinya menjadi amin yang paling kucanggihkan. Terima kasih telah ada meski hanya sementara. Senang pernah berjumpa dan sudi menjalin cerita, meski sua menjelma kata yang tak pernah bertahan lama. Akhir kisah kita menjadi hikmah yang selamanya akan kumaknai, singkat hadirmu menjelma keping dalam ingatan yang tak habis kuhargai.

Aku akan tetap mencintaimu, dengan segala getir yang kupendam juga sakit yang bersikeras kubenam. Di penghujung cerita ini, aku mengikhlaskan kita. Demi kebahagiaan yang sama-sama ingin digapai, meski akhirnya, bersama tak lagi jadi milik kita berdua.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top