Terima Segala Kurangku

Begitu sulit rasanya ‘tuk terima, atas semua kurang dan salah yang dikandung oleh jiwa. Raga tak sempurna, diri yang tak kunjung luput dari cela. Mengapa diriku harus terlahir menjadi aku? Adalah kepiluan dalam tanda tanya yang tak henti-hentinya terngiang di kepala. Si lemah yang tak bisa segala, si payah yang tak mampu berdikari atas mimpi yang diciptakannya.

Acap kali aku berharap agar waktu dapat berputar sekali lagi, mengubah takdir untuk menjadikanku siapa pun kecuali aku. Doa yang kejam, tentu saja, untuk dirapalkan kepada diri yang selalu setia mendampingi kala suka dan duka menerpa; yang tak kunjung letih memaafkan segala khilaf, juga memaklumi semua tabiat. Lantas, timbul kesangsian dalam dada, sudahkah kukenali diri ini seutuhnya? Sudahkah kukasihi diri sebagaimana harusnya?

Terlalu banyak menuntut dan mendakwa, hingga terbuai dari keharusan untuk menjaga diri atas ihwal yang menengarai duka lara. Terlalu sering meratap dan mencerca, sampai terabai dari kemestian untuk menjalani apa yang telah menjadi niscaya.

Mengapa begitu pelik ‘tuk berserah, atas kenyataan yang sahih di depan mata, bahwa kita tak lebih dari sekadar manusia yang tak luput dari kekurangan? Mengapa kerap kita tuntut diri tak berkesudahan, meraih apa yang mustahil demi validasi orang-orang semata, menjadikan diri ini budak bagi pengharapan dan tuntutan mereka yang tak sekalipun memahami kita, sibuk menyenangi dan mengasihi sesiapa hingga terlupa bahwa kita juga berhak untuk dicinta?

Apa yang menyebabkan kita begitu keji kepada diri, sedang dari semua keriangan dan kesedihan yang menghampiri, hanya diri sendiri yang paling mampu memahami? Dari segala kegelisahan yang menghantui, juga gempita yang memberi terang pada hati, bukankah hanya kita yang senantiasa tabah mendampingi?

Wahai diri, jangan biarkan diriku kehilangan siapa aku. Sebab, tembikar waktu habis dan cuma menyisakan abu, tak akan ada lagi jalan kembali untukku. Kembali untuk bersahabat juga berjalan seiring dengan adaku. Rangkul luruhku, sebab dari segala kurang yang kurengkuh, bahagia masih layak untuk kusambut.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top