Tak Sengsara Sendirian

Kabar sedih menyeruak ke seluruh penjuru, menambah panjang daftar pilu, hubungan kerja yang terputus dan kurva yang tak kunjung pupus. Sudah sekian lamanya kita dirumahkan, begitu linglung oleh keadaan, pun tak tahu apa yang akan terjadi dan harus dihadapi ke depan.

Lalu satu per satu wajah kita pun murung, menyumpahi nasib yang kita renung, pun mengutuk pandemi yang mengurung. Kapan kiranya kita akan melalui segala? Kapan pada akhirnya kita dapat kembali baik seperti sediakala?

Rasanya menaruh harap di waktu sulit seperti ini kian mustahil, terlebih setelah semua kemajuan yang kita impi tak kunjung menampakkan hasil. Seberapa lama lagi kiranya kita akan bertahan? Kita pun tenggelam dalam keputusasaan.

Lalu, di depan mataku, kusaksikan derita demi derita dibagikan. Dipikul sama beratnya, baik bagi si kaya atau si miskin untuk dikeluhkan; cicilan rumah yang terhambat, pemasokan yang tersumbat, pun tunjangan hari raya yang terlambat. Masing-masing dari kita mulai berlagak paling merana. Hingga kita lupa, bahwasanya yang sedang sengsara saat ini bukan hanya kita.

Kita, sungguh, tak akan pernah benar-benar sengsara sendirian.

Lantas, di tengah deras kesedihan yang masif, menerpa kita yang begitu naif, alangkah kelak ada jalan bagi asa untuk masuk dan memberi alasan bagi kita agar tetap bertahan?

Sejatinya bila kita tidak memulai, memberi kebaikan dan kepedulian untuk disemai, maka tak ada lagi harapan yang bisa kita tuai. Sedikit senyum pun tak apa, jikalau harta tiada lagi ada untuk bisa dibagi pada sesama. Semoga itu mampu memberi lega meski hanya sementara.

Ada baiknya bila kita rehat sejenak, dari memikirkan diri sendiri dan mengabaikan nestapa lain yang tampak. Bahwasanya kita tidak pernah sendirian dalam memikul kesulitan. Bilasanya suatu saat nanti, semua ini akan berlalu, dan bersama akan kita kisahkan lagi masa sulit ini sebagaimana angin yang telah lalu.

Namun, hingga saat yang kita inginkan tiba, ketika semua ini hanya menjadi ujian yang terlewat oleh masa, mari saling menguatkan dan menjaga. Memberikan segala yang baik yang masih bisa kita upayakan. Serta selalu mengingatkan diri bahwasanya kita tidak pernah benar-benar sengsara, sendirian.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top