Satu Sama

Setelah sekian lama tak berjumpa, kini bagaimana? Sudahkah kau bahagia? Adalah sepintas tanya yang barangkali tak akan pernah sampai pada tujuan: dirimu semata. Kita sama-sama paham bahwa kian masa telah terlampaui tanpa garis takdir yang menyatu di antara kita. Kita sama-sama sepakat untuk tak lagi mengusik babak baru dalam hidup kita: sebuah tempat ketika kau dan aku tak lagi bersama. Suatu niscaya yang selalu kumungkiri keberadaannya.

Dan dari kejauhan, kini aku menyaksikanmu terbalut cita. Tak lagi kusaksikan carut di wajahmu yang acap kali kutemui tatkala kita masih bersama. Kau bahagia, bersamanya yang kau anggap sebuah cerminan, meninggalkanku seorang diri dikecamuk luka.

Tak terima? Tentu saja. Bagaimana bisa ia begitu tega merenggut satu-satunya cita yang kupunya, dan bagaimana pula kau, melepaskanku begitu mudahnya seakan-akan aku ini tak berharga? Kukira “kita” sungguh nyata adanya, namun kusadari semua itu hanya ilusi semata.

Butuh waktu bagiku untuk bangkit kembali, dari apa yang telah pergi dan menyakiti. Salahku memang, sebab aku terlampau jatuh hati dan menaruh harap padamu yang tak begitu pantas. Sejak awal, kau tidak pernah diperuntukkan bagiku. Begitu pula aku. Sudah seharusnya hati ini disimpan untuk diri masing-masing saja.

Lantas, bagaimana? Haruskah aku larut dalam lautan kesedihan selamanya, selagi kau baik-baik saja bersamanya? Atau mestikah aku mengorbankan hatiku seluruhnya, agar pada akhirnya kau sudi untuk berpulang dalam dekapku yang kian hampa? Tentu kau dan aku sama-sama paham, bahwa apa yang telah pergi tak akan pernah kembali sama. Maka haruskah aku mempertaruhkan keabsahanku untuk bahagia?

“Tidak” barangkali menjadi jawaban yang paling berani serta keputusan yang paling bulat untuk kulontarkan. Kupahami bahwasanya kau bukanlah sumber bahagiaku satu-satunya. Tak akan lagi kubiarkan diriku hanyut dalam tangis dan rasa bersalah, sebab meratapi kepergianmu tak membawa apa pun selain percuma.

Kini, aku bersikeras untuk meraih keping demi keping diriku yang telah kau leburkan. Berupaya meraih kebahagiaanku sendiri, sebab aku pantas mendapatkannya. Kau telah mencari jalanmu sendiri, aku pun sama. Semoga cita selalu menyertai kita meski bersama tak lagi menjadi pilihan.

Kau melanjutkan hidupmu, aku juga pantas melakukannya. Kau melupakanku, aku pun mampu mengamininya. Tak seiring sejalan, aku terima. Kau bahagia, aku pun juga.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top