Pohon Rindang dan Benih Kecil

“Jangan merasa tahu segala, kau hanya sekadar anak kemarin lusa!” adalah satu dari sekian banyak ucapan yang begitu akrab di telinga; tentang bagaimana orang-orang di sekitar menghakimi cara kita bertindak dan memutus segala perkara, hanya karena mereka dianggap lebih tahu dan mumpuni tentang serba-serbi kehidupan.

Kalimat ini tampak tak begitu asing, baik bagimu dan bagiku, sebab usia kita yang barangkali terlalu belia untuk dianggap mafhum perihal dunia dan seisinya. Acap kali kita mendapatkan lontaran kata yang begitu merendahkan, bahkan perlakuan tidak menyenangkan, dengan dalih bahwa inilah cara agar kita mampu terbiasa dengan kerasnya hidup. Sulit pada akhirnya bagi kita untuk mengungkapkan apa yang dirasa dalam dada atau semua terlintas dalam benak sebab dianggap tidak berhak oleh mereka untuk berlaku sedemikian rupa.

Oh, betapa menyedihkannya melihat nilai-nilai yang pupus dipahami oleh sesiapa yang ada di sekitar kita, bahwasanya harga dari sebuah hidup, pengalaman, dan penghargaan diri tak pernah menjadikan umur dan jabatan sebagai tolok ukurnya. Sikap jumawa masih saja dipelihara oleh mereka yang merasa penuh kuasa, bagi mereka yang dianggap telah melalui masa-masa sulit dalam kehidupannya, seakan tak mau peduli jikalau hidup tak melulu berputar pada pohon rindang yang berbuah ranum, tetapi juga benih yang masih mungil dan bersikeras untuk tumbuh.

Benih-benih kecil seperti kita barangkali tak merasakan kerasnya desiran angin seiring tumbuh dan menjulang. Pun belum waktunya menghadapi jari-jemari nakal yang berupaya mengambil sedikit demi sedikit bagian dari kita hingga tak bersisa. Belum saatnya kita merasakan bagaimana sakitnya ditebang lalu tumbang, namun seiring dengan waktu harus kembali bangkit dan bermekaran lagi.

Namun, benih kecil juga bisa merasakan sakit dan terluka, bisa pula dihantui oleh kegagalan bilasanya suatu saat ia tak dapat tumbuh bestari sebagaimana yang diharapkan oleh orang-orang di sekitarnya. Begitu pula kita, baik yang belia dan yang menua punya masing-masing problematikanya; tak mampu diukur rata seiring perkembangan zaman.

Oleh sebab itu, baiknya kita melestarikan upaya untuk menghargai sesiapa. Bahwa stigma yang muda tak menahu apa-apa tak lagi relevan dan harus dihapuskan, bilasanya yang menua dan belia, terlepas dari segala yang mengikatnya, punya jalan dan cerita sendiri untuk dijalani dengan sebaik-baiknya.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top