Merdeka Atas Diri

Tujuh puluh lima tahun sudah, kita merdeka. Masa demi masa terlampaui, angka demi angka dilalui. Mereka berkata, kita telah terbebas. Lepas dari segala yang menjajah dan menganiaya. Kini, kita telah berdikari. Kuat dan berdigdaya atas diri sendiri. Namun, sungguh benarkah demikian?

Lagi pula, apa itu makna merdeka sesungguhnya? Akankah hanya sebatas bebas dari perbudakan sekian abad lalu sanggup membangun negeri pada akhirnya? Apakah tak lebih dari sekadar kata yang acap kita temui pada buku-buku sejarah atau histori yang tak kunjung bosan diputar dalam museum negara?

Merdeka, sejatinya punya makna yang lebih dalam dari apa yang tampak di permukaan. Merdeka tak cuma sekadar kata yang kau agung-agungkan di bulan Agustus dengan bendera merah-putih yang berkibar lepas. Ia adalah deklarasi bagi keleluasaan diri, maklumat bagi sesiapa yang menyatakan dirinya tak lagi dibelenggu oleh paksaan dan pengaruh orang lain; sebuah definisi berdikari yang sesungguhnya, manifestasi nyata yang tak sanggup digoyahkan oleh keniscayaan apa pun di dunia.

Pada praktiknya, banyak dari kita yang belum sepenuhnya “merdeka”. Bagaimana bisa kita bersemayam di ranah yang berdigdaya puluhan tahun lamanya, sedang hidup yang kita miliki masih saja dikendalikan oleh orang lain secara percuma? Entah seberapa banyak kesempatan yang sirna, berapa kali kita meratapi penyesalan yang ada, sebab mimpi dan harapan yang dimiliki harus terpendam begitu saja oleh realitas dan ketidakpercayaan diri seorang?

Nyatanya, di penghujung cerita, hanya kita yang sanggup bertanggung jawab dan menjalani segala keputusan yang diraih sendiri. Naik-turunnya, baik-buruknya, semua hanya akan kembali dan berakhir menjadi milik kita seutuhnya. Tak pernah terbagi dengan sesiapa, tak pernah diwariskan sekena. Saat diri ini jatuh, semua akan berbalik menampakkan punggungnya padamu. Tak akan ada yang sudi membantu, bahkan mengulurkan peluknya untuk menyembuhkan pelikmu. Pun saat diri berdiri tegak, berhasil keluar dari jalur keterpaksaan yang mereka bawa ke dalam hidupmu, semua pencapaian yang ada kelak tak akan jadi bermakna. Sebab, di lubuk hati yang paling dalam, ada cita dan upaya yang kau pendam dan bunuh perlahan, demi memenuhi ekspektasi mereka yang merasa tahu segala.

Lantas, apa pula baiknya hidup di bawah bayang-bayang sesiapa? Semua, pada akhirnya, akan pergi meninggalkan kita. Sepi sendiri seadanya. Bilasanya kita tak sanggup memenuhi angan yang mereka bebankan, akan jadi apa kelak? Pada akhirnya, hanya kalimat penyesalan yang terlontar dan menjadi teman sesak dalam dada.

Mulai detik ini, mari kita sama-sama mengukuhkan diri agar menjadi pribadi yang lebih berani memerdekakan diri di masa mendatang. Tak takut dengan mimpi yang dipatri, tak gentar dengan riskan yang menghalangi. Sebab, merdeka atas diri adalah satu-satunya cara untuk mencintai pribadi seutuhnya, dan hanya dari situ pula kita akan meraih keberhasilan sesungguhnya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top