Dan, Selesai

Bagaimana rasanya kehilangan mereka yang amat kita percaya, tempat kita membiarkan segala tangis ruah dan amarah rekah, lantas khianat begitu saja? Yang kita kira paling peduli dan memahami, seketika menjadi asing yang tak pernah kita kenali. Mereka membalikkan punggungnya dan seketika kita pun terpana, diri ini semerta sepi dan penuh luka. Bertanya-tanya, jika yang terjadi sungguh nyata adanya.

Sekejap kita lupa apa arti cinta. Dulu mengasihi, kini saling memaki. Berat di hati untuk memahami, bahwa siapa pun bisa berubah tanpa kita kehendaki. Yang baik menjadi keji, yang dinanti tak lagi hadir di sisi. Seakan terlupa, sejatinya yang pasti dalam hidup adalah ketidakpastian. Kita tak punya kendali atas apa dan siapa yang memilih datang, pergi, juga menetap. Seraya hamba paling taat dan pendengar paling setia, kita dibiar termenung menatap mereka memberi cerita dengan berbagai cara.

Hancur lebur telah terjadi. Tak dapat kita hindari. Cinta telah lenyap dan luka telah terpatri dalam hati, menjelma dendam yang dipendam bahkan maaf pun tak dapat mengobati. Berpisah menjadi satu-satunya cara yang harus ditempuh. Laiknya sekat tak kasatmata, tak dapat lagi kurasakan hangatmu kala bercerita atau sedihmu saat kau merasa letih dan tak berdaya. Tak ada pula aku di sana, memberimu segala peduli dan cinta yang kupunya untuk menumpu segala langkah yang ingin kautempuh seorang.

Lantas, aku harus apa? Jelas kupahami bahwasanya apa yang kita tanam adalah apa yang kita tuai. Mengapa harus kusesali adanya, jika ini-barangkali-menjadi takdir Tuhan yang harus kita terima? Yang pergi nanti akan terganti, yang terluka kelak akan terobati. Lepaskan segala khianat dan memberi luka, bukan karena mereka layak dilepaskan, namun dalam singkatnya hidup mereka tentu tak layak ada. Maafkan segala yang telah hancur dan usai, bukan berarti mereka layak dimaafkan, namun ini harus dilakukan demi hatimu yang butuh reda.

Tak perlu menjaga yang memberi celaka, tak perlu jua mempertahankan yang ingin beranjak meski kau harus sendirian. Sebab, sejatinya kawanmu adalah dirimu seorang. Kau akan baik-baik saja karena semua yang pergi kelak akan terganti dengan yang lebih baik dalam doa.

3.3 7 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top