folder Filed in Prosa, Senadi, Yang Lain, Yang Sekarang
Untuk Seseorang yang Kupanggil Ayah
Sebagai anak, baktiku hanya selembar daun kering yang gugur karena terlalu tua. Sulit untuk jujur bila akupun menyayangi kedua orangtuaku.
Fani Kania comment 3 Comments access_time 4 min read

Dini hari, di hari yang orang-orang peringati sebagai cara berterima kasih kepada seseorang yang  dipanggil Ayah. Aku menasbihkan diri untuk memperingatinya dengan menyetubuhi aksaraku.

Ayah, yang kuteguk ranum kasihnya saat orang-orang tertidur melewati waktu yang hinggap pada sepertiga malam yang akhir. Seperti hari ini, kala orang-orang memasang foto wajah ayah-ayah mereka di media sosial serta tulisan “Selamat Hari Ayah” barangkali sudah menjadi tagline teratas di hari ini. Tak lupa kata bangga serta ucapan terima kasih acap diucapkan. Aku memperhatikannya satu persatu. Lalu foto-foto itu bertanya padaku. “Bagimana Ayahmu?” pertanyaan tentang ayah selalu sukses membawaku kehadapaan air mata.

“Ayahku?” Ayahku tidak menjual kesabaran juga tidak menjual kasih, Ayah hanya seorang sederhana yang menjadikan sabar sebagai iman dan kasih sebagai teman hidupnya. Ayah tak pernah meminta imbalan atas semua itu. Dimataku kehebatan seorang Ayah terletak padaa tanggung jawabnya.

Akhir-akhir ini aku sering menyalahkan Ayah, menyalahkan pekerjaan Ayah yang baru kuketahui sebagai buruh harian lepas dengan gajih yang jarang sekali mampir ke dompet Ayah. Terlebih keseharian Ayah yang selalu menunggu orang membalas jasanya dengan rupiah. Aku sadar, aku sudah harus mandiri. Menggantungkan diri hanya pada penghasilan Ayah rasanya mustahil. Selain itu ketika aku pulang dari lelahnya ibu kota, bukannya menyapa kabar, aku lebih sering menyanyikan keluh. Uang harian yang selalu kurang, biaya kos bulanan yang naik, uang kuliah tunggal yang kadang untuk membayarnya perlu perdebatan pinjam sana-sini. Aku malu sekali bila urusan keluarga jadi konsumsi orang sekitar. Aku terus menuntut ini itu pada Ayah. karena aku merasa perlu mendapatkan hakku sebagai anaknya. Namun di hari ini aku ingin menjadi Ayah. Ayahku yang bekerja.

Aku melihat tubuh Ayah yang meneriakkan sakit, belum lagi ketika Mama iseng bercerita kalau Ayah tiba-tiba pendarahan. Aku tidak tahu apa-apa tentang kabar itu hingga kemarin. Rasanya perih menggelayuti sekujur tubuhku yang penuh keegoisan. Aku seperti ditampar habis-habisan oleh hidup. Aku tidak tahu, bila siang tiba, Ayah selalu menunggu di depan gerbang rumah orang yang memeras jasanya hingga sore menjelang untuk menerima kompensasi atas kewajibannya, yaitu gaji. Aku tidak tahu bila Ayah telah mempermalukan diri dihadapan teman-temannya dengan meminjam uang demi biaya kuliahku, tapi Ayah tidak pernah merasa malu. Aku tidak tahu bila sebenarnya ia sakit, ia hanya bilang “Ayah lagi pusing. Maaf belum bisa jemput kamu di stasiun.” Ketika membaca pesan itu rasanya kesal karena aku kelelahan dan terpaksa naik kendaraan umum. Transportasi online nyatanya tidak toleran dengan uang sakuku sebagai mahasiswa yang serba hemat. Jujur kuakui, hidup di ibu kota sangat sulit ku jalani, seolah aku dituntut untuk menyanggupi segalanya. Dan tak jarang aku menyalahkan Ayah atas kesulitanku ini. Lalu ketika tiba di rumah aku mendapati Ayah sedang berbaring di ranjangnya dengan selimut merah memeluk erat tubuhnya yang tambun. Bila kuperhatikan rambut putih terlalu cepat memakan tiap helai hitamnya. Juga tangan dan kakinya yang tidak sekuat saat ia menggengdong kedua anak kembarnya dengan gagah.

Setelah melaksanakan dua rokaat rindu pada Tuhan-Nya, pekerjan ayah pagi hari adalah menunaikan tanggung jawabnya. Bagiku Ayah telah bertanggung jawab dengan mengantarkan anak dan istrinya. Pukul lima di senin pagi, waktunya Ayah mengantarku ke stasiun untuk melanjutkan rutinitasku sebagai mahasiswa yang tinggal di ibu kota, pukul enam pagi giliran kakak dan adikku yang diantar, setelahnya bersama sepeda motor keluaran tahun 2000 Ayah kembali ke rumah untuk mengantar Mama bekerja di rumah saudara sebagai asisten rumah tangga. Malu rasanya bila harus mengakui ini, Mama jadi harus bekerja untuk membiayai anak-anaknya yang penuh ambisi pada cita-cita dan tujuannya. Begitulah aku  mengenal ayah. Pernah aku terlibat dalam sebuah percakapan tukang soto dengan Ayah. Bapak itu bertanya dari mana asalku, “Kami dari Bogor, Pak.” Jawab Ayah menanggapi. Tukang soto itu terkejut ketika mengetahui kami berkendara dari Bogor hingga Jakarta Timur dengan sepeda motor di usia ayah yang menginjak 54 tahun. Bapak itu tegas mengatakan dirinya tidak sanggup bila ada di posisi Ayah. betapa saat itu aku bangga dengan orang yang sedang menyantap suapan terakhir sotonya itu disampingku. Aku bangga pada Ayah dan aku berterima kasih, karena ayah yang menjadi Ayahku.

Sebagai anak, baktiku hanya selembar daun kering yang gugur karena terlalu tua. Sulit untuk jujur bila akupun menyayangi kedua orangtuaku. Kuwakafkan diri ini untuk menerima segala lelah yang menuntut keharusan, untuk menerima rasa sakit yang kadang melemahkan, untuk menopang tubuh yang menanggung amanah dan demi juang yang panjang untuk menjadi manusia utuh. Ayah, Mama tunggu sebentar lagi, anak-anakmu sedang berjuang untuk memberikan kehidupan yang layak dan lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment