Sampai Kapan?

Meleburkan semua batas nyatanya bukan opsi karena perasaan tak meminta didikte, tak menuntut balas tapi ia berusaha menjadi saling pada semua silang yang lalu-lalang lalai. Wajah waktu merekam ragu dan pasti sekaligus lewat pelangi terbalik di bibirmu, aku tak pernah diizinkan menepi untuk sekadar mengabadikannya dalam potret hidup. Meski begitu, aku menikmatinya.

Aku tidak ingin berjudi lagi, tidak dengan intuisi, firasat ataupun radar dan segala sebutan yang menurutku abstrak, aku hanya percaya pada naluri. Sadar bahwa aku terbatas, kamu pun begitu. Tapi aku payah untuk menjadikan perasaan ini terbatas. Jika memang tak pernah ada sebuah “kita” dalam setiap kalimat yang diawali dan diakhiri dengan kesenyapan, mengapa Tuhan ciptakan ia semegah ini? Menghadapinya, seperti Epictetus dengan siklus hidupnya. Aku harus berusaha menjadi bajik dalam bijak pada semua kendala yang harus terkendali.

Masih layakkah jika aku dan kamu berusaha menjadi kita?

Sebuah malam yang kudus menyemburku dengan pertanyaan gigil nan ganjil. Aku penasaran, sebuah kita apa yang nanti tercipta jika kita mengusahakannya dengan bertaruh pada iman dan penyerahan? Aku hanya tahu, karena rindu dan kesepian Adam meminta Hawa kepada-Nya tanpa menyebutkan iman apa yang dikandung seorang Hawa (Sebut aku keliru, tapi dalam proses mengotori kertas dengan aksara ini aku tidak sedang berdebat memperebutkan kebenaran). Yang ingin kutahu, mengapa Adam rela menaruhkan sulbinya untuk Hawa? Apakah ini yang disebut kemegahan dalam mencintai bagi umat manusia? Atau sebuah penawar dan penangkal kesepian seorang Adam? Mungkin juga jika Adam tak pernah ada, rindu dan kesepian pun takkan ada. Sebuah paradoks yang unik. Rasanya perdebatan Adam dan Hawa akan semakin panjang dan menguras pikir kepala awamku ini.

Jika begitu, sampai kapan?

Sebuah keputusan lahir dari pertarungan pikir dan hati, aku tidak melihat masa depan, bukan aku tidak berani mengusahakan kita, lebih dari itu akan ada sakit yang dahsyat jika kita memaksakannya. Kemegahan ini, biarlah menjadi ibadah-ibadah malamku untuk mendoakanmu dengan cara yang bajik. Biarlah iman menjadi kendali kita dalam mengarungi bahtera hidup yang senang bercanda. Karena seperti untaian sajak Hujan Bulan Juni, dalam goresan tintanya yang seperti nikmat Tuhan, ia berkata: “Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.”

November dan eleginya tak pernah gagal membawaku ke hadapan air mata, mata air paling murni bagi pengakuan kejujuran seorang manusia. Bersama derasnya hujan, aku kembali berteman dengan kehilangan.

4 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top