Penulis dan Kemiskinan

Malam raib sebelum hujan pulang ke peraduan semesta, tapi asa tak pernah mampir bahkan sekadar singgah, hanya tersisa aku yang takzim menghidu cerutu di ujung selesma, habis dilahap penantian.

Apa yang bisa didapatkan penulis selain kemiskinan? Satire dari suara nasib yang gugur mendaki harta. Memang aku dan kemiskinan dekat, kami karib kala para borju mengemis ambisi dan perhatian dengan cara-cara lacur yang ambigu dan kontras. Penulis bukanlah Colombus dengan ambisi menemukan dunia baru, penulis sepertiku lebih tertarik pada sufi dengan sufistik sastranya atau Epictetus yang  menyelami hidup dari cara-cara bajik. Mungkin juga imanku sejalan dengan gagasan Marx mengenai agama yang jadi candu bagi para pengikutnya. Jalan bagi manusia untuk akrab dengan kemiskinan dan meninggalkan seragam duniawi yang jadi tolok ukur hidup ideal standar masyarakat. Tapi toh, aku tidak hidup dari penilaian orang lain. Karena ini aku jadi akrab dengan kemiskinan.

Dalam kegiatan mengotori kanvas dengan aksara ini aku tidak sedang menjual iman sebagai prinsip ulung penulis, atau berbicara kabar burung yang lagi-lagi tak ubahnya ilusi bagi para delusi kabar. Malam ini aku ingin belajar dari kemiskinan dan ketidaksempurnaan, menggunakan kereta iman, berangkat dari stasiun asa yang khalis menuju telaga syukur yang subur.

Kemiskinan berelasi makna dengan kekurangan. Miskin dan kurang, adalah kembar yang bernilai rasa rendah di masyarakat yang tak pernah tidur ini, bahkan di balik sampul ibu kota, miskin dan kurang menjadi penyakit yang ditutupi atau borok bernanah yang menjijikan. Menurutku, kehadiran kemiskinan relevan dengan gagasan kesepian, sama-sama ada karena eksistensi manusia. Jika tidak ada manusia, kesepian tak pernah tercipta, kiranya relevan dengan kemiskinan dan ketidaksempurnaan. Manusia adalah pembahasan yang tidak pernah selesai. Akal menjadi alat kontrol peradaban atau bahkan menciptakan falsifikasi moral menjadi amoral, fraktal dalam kausalitas purba yang ranum. Menurutku, kemiskinan dan ketidaksempurnaan adalah ontologi manusia. Dengan kepapaannya manusia berusaha mencari sebanyak-banyaknya jawaban, menjadi sebaik-baiknya sempurna, berlomba dan berlari tanpa tujuan pasti, dan mungkin menghindari gagasan tentang kematian dengan menenggelamkan diri dalam kesibukan. Itulah mengapa kemiskinan dan ketidaksempurnaan adalah manusia itu sendiri. Manusia sadar bahwa ia papa dan berusaha menyangkalnya. Manusia menuju pada fenomena krisis identitas.

Aku menolak mengikuti arus itu, mencoba keluar dari lingkar, melepas semua seragam duniawi, menyadari hakikat diri sendiri dan mencoba memberi makna pada semua yang sudah dan akan terjadi. Menjadi miskin dan tidak sempurna adalah pelajaran mengenali fitrah, aku si awam dalam ilmu pengetahuan mencoba menempuh jalan spiritual untuk mencari kedamaian, di tengah perjalanan ini, aku berjumpa pada formula kemiskinan dan ketidaksempurnaan sebagai cara mengenali diri sendiri dan mencintai nasib. Menjadi miskin dan tidak sempurna bukan berarti tidak memiliki asa, mimpi apalagi ambisi, meskipun sekilas terlihat seperti antitesis, tapi sejatinya berbeda. Menjadi miskin dan tidak sempurna dalam konteks ini adalah kendaraan menuju telaga syukur yang subur. Kita perlu sadar bahwa ada yang tidak bisa dikompromikan dari waktu dan setiap yang bernyawa pasti akan menemukan ajalnya. Jika meminjam perkataan Sapardi, yang fana adalah waktu kita abadi, adalah penyerahan iman menuju damai dalam hidup.

4.7 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top