Eksistensi Juni dan Romantisme Hujan

Aku dan bulan Juni tak pernah bertengkar tentang hujan yang terburu datang menghanguskan mimpi-mimpi semalam. Padahal musim penghujan tidak jatuh di bulan ini, hanya saja Juni dan hujan adalah romantisme getir dari sebuah perjalanan.

Diawali dengan perjudian amin yang kadang tak seiman tentang bagaimana rencana Tuhan bekerja, bersinggungan dengan kehendak manusia dan cara-cara muskil yang memiskinkan. Terlalu picik menerka gerimis di antara kemarau panjang, berharap barisan doa yang tak seberapa ini mendelegasikan dirinya sebagai doa yang paling tanpa melihat barisan-barisan doa yang lain pun berebut mengetuk pintu Tuhan untuk dikabulkan segera dan tergesa-gesa. Aku jadi paham sekaligus belajar, sekalipun Tuhan belum membuka pintu untuk doa-doaku, Dialah Tuhan yang patut kusembah. Perjalanan iman ini membangkitkan kesadaranku bahwasanya menjadi apa yang kuinginkan tidak serta merta membuatku utuh.

Juni pula yang menjadi saksi bisu pertemuanku dengan perasaan ganjil. Perasaan yang tidak diajarkan Mama dan Ayah, perasaan yang tidak pernah kurasa pada adik dan kakakku, juga perasaan yang tak kutemukan di buku-buku yang kubaca; yakni perasaan mencintai orang asing beserta masa depan, masa lalu, dan dirinya yang ia bawa. Aku belajar kasih dari seorang laki-laki selain Ayah, juga laki-laki itu mengajariku luka dan cara berdamai dengan rasa sakit. Meskipun terdengar getir, memaafkan adalah pelukan ibu di tengah badai salju–hangat di dinginnya luka.

Ujung dari perjalanan adalah pulang. Pulang ke palung paling dalam bernama kedamaian. Akhir-akhir ini aku banyak menyaksikan kedamaian itu melalui dering telepon ataupun pesan singkat. Tangis kesedihan bagai elegi pagi yang menyayat hati, membungkam suara dan menyapu bersih tenaga. Berita duka berkelindan di telingaku, membawa debar dahsyat dan menghunjam batin. Sejak kecil aku tidak pernah siap dengan kehilangan, akan tetapi aku mencoba hidup beriringan dengan kehilangan, aku berkompromi.

Dalam hidup, perjumpaan dan perpisahan adalah hal yang pasti, begitu pula dengan kelahiran dan kematian. Mereka berdampingan seperti sedih dan bahagia. Juni dan intuisi dengan intelegensi terhebatnya mengajariku bahwa aku tidak sedang belajar mengeja takdir atau rencana, aku sedang menulis dan membaca hikayatku sendiri, lalu mempelajari sejauh apa hidup membentur dan membentuk serta memaknai setiap peristiwa di dalamnya sebagai cara menghidupi hidup dengan kafah.

5 6 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top