Berani untuk Tidak Sempurna

Apakah kau puas dengan apa adanya dirimu?

Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga dalam Berani Tidak Disukai (2013) memuat pertanyaan ini seakan-akan umat manusia sedang dalam wabah kerendahdirian yang akut. Kita tak kekurangan orang yang menginginkan kesempurnaan dalam hidup, bukan? Kekuasaan, kekayaan, serta kehormatan gemar berselimut dalam diri setiap manusia. Berlomba menjadi sempurna adalah jalan terbaik menuju ketidaksempurnaan. Memang terdengar sarkastis karena terkesan menghakimi tanpa memikirkan pandangan bahwa dalam ketidaksempurnaanya sekalipun manusia berhak memaksimalkan potensi dirinya agar terlihat “sempurna”. Tapi apa batasan dari kata “sempurna”? Bukankah “sempurna” hanya sebuah konsep tanpa referen, sesuatu yang tidak ada wujudnya? Kenyataan bahwa kita semua tidak pernah lepas dari subjektivitas adalah kenormalan yang selalu dipertentangkan, bahwa pandangan setiap orang bukan sesuatu yang wajib dihakimi, begitu pun pernyataanku tentang keinginan menjadi sempurna adalah jalan terbaik menuju ketidaksempurnaan.

Aku tidak sedang membual ataupun memberikan gagasan yang dogmatis. Aku hanya berusaha menjadi tidak sempurna dalam ketidaksempurnaanku sebagai manusia. Manusia memiliki batas yang tidak dapat dikompromikan bahkan dengan semesta sekalipun. Contohnya adalah waktu, meskipun aku berusaha menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, aku tidak bisa berkompromi dengan Tuhan untuk menjadi kekal atau meminta kepada Tuhan supaya terlahir kembali dalam keluarga berada, lengkap, dan harmonis. Dalam menyelami kata-kataku, berarti kau sedang menyelami diriku secara benar. Aku adalah kita semua yang merasa tersiksa dan terjebak dalam standar masyarakat untuk menjadi sempurna dan ideal.

Maka dari itu, marilah menjadi tidak sempurna. Dengan cara itu, kita tidak lagi menjadi mesin pemuas hasrat orang lain. Kita kerap kali sibuk memuaskan ekspektasi orang lain terhadap kita, berusaha keras agar orang-orang menyayangi dan memandang kita hebat, bahkan terkadang kita tak ubahnya makhluk yang haus akan pujian orang lain, tanpa menyadari bahwa pujian itu adalah semu. Dan sebenarnya kita sama sekali tak memiliki kewajiban untuk memuaskan ekspektasi orang lain.

Menjadi tidak sempurna membuatku menjadi pribadi yang lebih menghargai diri dan manusia. Menjadi tidak sempurna juga mengajarkanku untuk menerima segala yang kumiliki, kurang dan lebihnya. Penyakit kita hari ini adalah menganggap kekurangan diri sebagai kelemahan yang memalukan serta mengancam. Padahal kekurangan diri adalah bukti bahwa manusia tidak sempurna dan itu normal.

Kuncinya adalah menerima.

“Aku menerima diriku dengan kurang dan lebihnya, aku menerima diriku yang tidak sempurna, aku menerima bahwa aku pernah melakukan kesalahan besar sehingga aku kehilangan kesempatan yang kutunggu sejak lama, aku menerima kegagalan karena belum berhasil mendapatkan beasiswa impianku, aku menerima bahwa aku ceroboh dan kurang teliti. Dari semua kekurangan itu aku tetap menerima diriku apa adanya.”

Lega rasanya ketika bisa mengakui kekurangan dan menerimanya. Aku tidak lagi berusaha untuk menjadi orang lain atau memuaskan ekspektasi orang lain. Yang aku miliki hari ini adalah diri sendiri dan hati yang penuh syukur. Bahwa di dalam ketidaksempurnaan terdapat kesempurnaan mencintai nasib (amor fati). Jadi, jika ditanya apakah aku puas dengan apa adanya diriku, jawabannya adalah puas.

4.8 6 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Diva Natasya Mayang Putri
Diva Natasya Mayang Putri
15 days ago

Huhuhu makin bersyukur setelah baca inii tambah lagi kekurang penulis sama seperti yang aku rasain ceroboh dan gak teliti yang sering kali bikin aku terus benci diri aku ketika terus di omongin kekurangan aku…. Terimakasih kak i feel uuu😭😭😘

Fani Kania
Fani Kania
15 days ago

Pelukkk🤗

Top