Mencintai Itu Sederhana

Hujan lagi-lagi mengguyur kota tempatku berada. Rasanya kotaku ini sedang menjadi dirinya sendiri karena hampir setiap saat ia menurunkan rintik hujan. Dan seperti biasa, aku bersama teman-temanku menyempatkan untuk melipir ke kedai kopi sepulang kerja, sekadar untuk menghangatkan badan, sembari berbagi cerita yang tak bisa diceritakan di kantor.

Suasana begitu hangat dengan obrolan yang ada, beradu tawa, saling lempar canda, hingga terbahak bersama. Bagiku sendiri, berkumpul bersama rekan kerja dan membicarakan hal yang bukan pekerjaan itu sangat penting. Karena dengannya, aku bisa lebih mengenal teman satu kantorku, dan terlebih lagi, aku bisa lebih dekat dengannya.

Ya, dia ada bersama kita semua di satu meja ini. Dia selalu ceria saat momen-momen seperti ini. Dia selalu semangat melemparkan jokes, meskipun sering dipatahkan atau kurang lucu. Tapi, semua tetap tertawa, dan dia hanya tersipu lalu tertawa. Ah, sulit rasanya tidak memperhatikannya saat itu.

Kalau kamu mengira aku suka padanya, sepertinya tebakanmu tepat. Kalau kamu mengira aku sudah mendekatinya sejak awal, kamu jelas keliru. Aku hanya kenal dia di kantor, selebihnya aku dan dia adalah orang asing, dua manusia yang berasal dari dua dunia yang berbeda. 

Sepertinya benar kata Fiersa Besari kalau Alam Semesta mampu berkonspirasi untuk mempertemukan dua manusia yang punya kehidupan berbeda sekalipun. Lebih pusing lagi tatkala aku merasakan apa yang dikatakan Sujiwo Tejo kalau mencintai itu takdir, bisa muncul begitu saja dan pada siapa saja. Sulit untuk dideskripsikan kenapa harus dirinya, karena katanya cinta memang tak butuh penjelasan kenapa, yang jelas karena itu dirinya, maka aku merasakan cinta.

Cinta adalah anugerah. Kamu bisa merasakan kebahagiaan dan siksaan dalam waktu bersamaan. Ada bahagia ketika kamu bisa memperhatikan tingkah lakunya, tapi ada perasaan tersiksa ketika rindu tak bisa diungkapkan.

Cinta juga memberi dorongan pada manusia untuk mengekspresikannya. Lihat saja Kaisar Shah Jahan yang membangun Taj Mahal atas dasar cinta pada istrinya atau Bandung Bondowoso yang mampu membangun Candi Prambanan dalam semalam demi cintanya pada Roro Jonggrang.

Memang, aku tidak sekaya Shah Jahan atau sesakti Bandung Bondowoso. Jangankan untuk melakukan seperti yang mereka lakukan, untuk bilang, “Aku mencintaimu” saja belum ada di benakku. Tapi bukan berarti dorongan untuk mengekspresikan perasaanku juga tidak ada.

Mencintai dengan cara yang sederhana akhirnya jadi pilihanku, sesederhana mendukung setiap keputusannya dan menjaga agar tetap ada di jalur yang telah dia buat sendiri, memasang telinga setiap kali dia butuh untuk didengar dan siap memberi usul tatkala dipinta. 

Apakah itu berarti aku berhenti mengerjainya? Tentu tidak. Bukan karena itu SOP sebagai rekan kerja, tapi karena aku senang saja mengerjainya, he he. Yang jelas, bagiku hal itu saja sudah cukup untuk mengekspresikan cinta. Mencintai itu sederhana, tak perlu berlebihan apalagi kepada orang yang belum tentu mencintaimu juga.

***

Hujan pun akhirnya reda. Malam semakin larut seiring dengan pelayan kedai yang menghampiri dan bilang “Maaf, kita udah mau close order, ada tambahannya?” Kami pun bergegas karena esok masih harus berhadapan dengan deadline masing-masing. Satu per satu pergi dengan motornya, begitu pun aku dan dia. 

 

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Septi Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Septi
Guest
Septi

i smile from ear to ear reading this 🙂

Top