Mon Mère

Waktu kecil saya selalu berpikir, Ma adalah pencerita ulung untuk dua alasan besar. Yang pertama, saya pernah membaca surat yang ia tulis untuk anak pertamanya—kakak perempuan saya—yang mati saat bayi sampai saya menangis. Yang kedua, saya tidak akan tidur sebelum mendengarnya menceritakan dongeng yang dibuat-buat berdasarkan kehidupan nyata kami, dengan tambahan adegan-adegan kurang masuk akal yang kemudian membuat saya sesekali menyangkal tapi selalu dijawab dengan lembut, “Namanya juga dongeng. Nah, sekarang tidurlah.

Belakangan saya yakin betul bahwa Ma adalah penyimpan rahasia yang terlatih. Waktu saya banyak berpikir soal dongeng-dongeng yang pernah diceritakannya, saya sadar dia membuat cerita tentang semua orang kecuali dirinya sendiri. Ada raja arif yang kedengarannya mirip ayah, anak perempuan rajin dan cantik yang mungkin saja kakak perempuan nomor satu, anak perempuan bandel yang berpetualang di negeri jamur yang saya yakin kakak perempuan nomor dua, dan anak laki-laki konyol yang malas mandi. Tidak pernah ada permaisuri, ibu-ibu baik hati yang menyisir rambut emasnya untuk dipintal jadi benang, atau ratu berhati lembut yang membantu suaminya di kerajaan. 

Seperti apakah dunia ajaibnya sebelum ada kami?

Tidak seperti Ayah, Ma tidak pandai melisankan kisah hidupnya sendiri. Di dalam dirinya, saya selalu melihat ada satu ruang yang ia tutup rapat-rapat. Saya bertanya-tanya, sebanyak apa dunia miliknya yang saya rampas di hari kelahiran saya dulu? Orang bilang, kalau sudah berkeluarga, orang tua tidak akan pernah sama lagi. Itukah yang terjadi pada Ma? Apakah mungkin—sebetulnya—dulu sekali ia juga merangkap sebagai badut senior yang ahli melucu?

Kalau sedikit saja saya mengenyahkan pikiran konyol semacam itu, saya sebetulnya bisa melihat satu kejelasan yang pasti di tatapan Ma. Satu oase yang kadang menemui kemarau di mata Ayah. Ketabahan yang tulus. Mata teduhnya itu tidak pernah meragukan keberadaan saya. Ia senantiasa menerima saya sebagai jawaban, nihil penyangkalan. Mungkin, itulah alasan kami betah berjam-jam duduk bersama tanpa bicara. Dengan Ma, diam adalah bahasa yang tidak membingungkan. Kami tidak perlu mempelajari apa pun.

Ma, di dunia yang tidak pernah bisa saya tuliskan kebenarannya ini, apakah mungkin membaca pikiranmu bisa jadi jalan setapak paling relevan?

3.3 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Glz
Glz
1 month ago

mantul sammm

Top