folder Filed in Yang Sekarang
Dari Hati Seorang Anak Perempuan
Saya merasa menemukan satu harta yang seharusnya dapat saya sadari minimal ketika mengalami peralihan dari remaja menuju dewasa. Bapak adalah jawabannya.
Eugenia Septianti comment 8 Comments access_time 9 min read

Kita semua tentu mempunyai seorang idola. Kita semua tentu mempunyai beberapa hingga banyak alasan mengapa kita mengidolakannya. Waktu saya kecil, saya pernah ditanya oleh guru saya siapakah yang menjadi idola saya. Kala itu, jawaban saya dan teman-teman saya tentu beraneka ragam. Banyak di antara kami yang mengidolakan pemain film, atlit hingga penyanyi. Saya menjadi salah satu anak yang mengidolakan seorang penyanyi asal Indonesia.

Ketika diminta untuk menjelaskan alasan kami mengidolakan beraneka ragam idola kami, terdapat banyak sekali alasan yang juga berbeda. Saya termasuk yang mengidolakan seorang penyanyi tersebut dengan alasan menyukai suaranya yang bagus dan wajahnya yang cantik. Saya punya keinginan agar dapat menjadi penyanyi seperti itu ketika dewasa.

Seiring berjalannya waktu dan seiring bertambahnya usia, tren yang dihadapi pun semakin maju terutama dengan hadirnya banyak figur publik dengan berbagai karya yang dimiliki. Mereka menghiasi layar kaca dan dunia hiburan tanah air. Kondisi tersebut membuat saya dan mungkin banyak orang lainnya semakin memiliki banyak alasan untuk mengidolakan figur-figur publik tersebut dan tetap mengikuti tren. Keinginan untuk dapat menjadi seperti sang idola tentu menjadi satu hal yang punya peranan penting bagi manusia masa kini.

Suatu ketika, saya meluangkan waktu sendiri dengan diri saya sendiri. Merenung dan kembali mengingat hal-hal kecil membuat saya belajar lebih bersyukur dan menghargai setiap harta yang saya miliki. Sampai di titik itulah, saya merasa menemukan satu harta yang seharusnya dapat saya sadari minimal ketika mengalami peralihan dari remaja menuju dewasa. Bapak adalah jawabannya.

Terdengar klise, namun itulah faktanya. Saya mencoba menarik benang merah antara Bapak dengan konsep sosok idola yang saya pikirkan selama ini.

Seringkali saya berpikir bahwa sang idola adalah segalanya. Mereka adalah orang-orang sukses dengan caranya masing-masing yang membuat saya terpanah dan menganggap mereka adalah orang-orang hebat. Masih ingat dengan pepatah berikut, “lihat prosesnya, bukan hasilnya”, kurang lebih begitu. Untuk mengetahui proses pencapaian karir sang idola, biasanya saya mencari tau lewat beberapa sumber. Salah satu diantaranya adalah internet. Hal yang sering membuat saya merasa terpanah ketika sang idola ternyata memulai segalanya dari titik nol.“Wah, hebat ya”, gumam saya dalam hati.

Tanpa mau basa-basi, saya hanya mau bilang dan mengingatkan. Kita ini manusia.Hanya dapat bermimpi, berjuang, berharap dan jika diizinkan kita akan mendapatkannya. Sang Pencipta maha baik sudah menggariskan segalanya sesuai porsinya masing-masing. Kembali kita diingatkan untuk tidak kecewa ketika porsi kita berbeda atau bahkan lebih sedikit dibanding dengan yang lain. Sang Pencipta itu adil. Dia tau persis mana yang baik dan kita butuhkan.

Dalam masa saya belajar mengenal pikiran dan diri saya sendiri, saya teringat satu sosok. Sosok yang sangat dekat dengan saya. Sosok yang membuat saya merasa selalu bersyukur walaupun saya menghadapi satu kondisi sulit. Sosok yang menyadarkan saya bahwa Sang Pencipta benar-benar memberikan porsi yang baik dan sangat saya butuhkan. Lagi-lagi, bapak adalah jawabannya.

Ketika saya kecil, tidak banyak hal yang saya tau dari sosok ini. Saya hanya tau bahwa beliau adalah bapak saya, bekerja dari pagi hingga malam, dan di hari libur bermain dengan saya dan adik-adik. Tapi satu hal yang baru saya sadari ketika sudah berumur 20 tahun. Ternyata, bapak adalah sosok hebat dengan segala kelemahlembutan hatinya. Sosok yang rendah hati dan ingin selalu berbagi. Selalu mengalah dan tak pernah menyerah.

Sekilas teringat kisah hidup bapak yang juga memulai semuanya dari titik nol. Lahir dari keluarga petani di desa, hingga harus mulai hidup mandiri sejak berusia 6 tahun karena ibunya meninggal akibat sakit. Bapak adalah anak pertama dari empat bersaudara. Terbayang di benak saya seorang anak berusia 6 tahun mengurusi adik-adiknya sendiri. Kondisinya waktu itu kakek harus bekerja di kampung seberang.

Singkat cerita, karena dapat menjadi seorang anak berprestasi di Sekolah Dasar, bapak diangkat menjadi anak oleh keluarga berkewarganegaraan Swiss. Bapak disekolahkan ke kota-kota. Mulai dari Kota Tarakan, Kota Samarinda, Kota Sukabumi, hingga Kota Semarang. Ada sesuatu yang menurut saya haru. Ketika selesai berkuliah di Kota Semarang, bapak menikah dengan ibu saya. Saat itu, mereka harus menunggu waktu agar dipercaya oleh Tuhan untuk mengurusi seorang anak. Ya, setelah menikah bapak dan mama tak kunjung memiliki seorang buah hati. Bapak pun bekerja di sebuah kantor gereja di Kota Tarakan. Mama yang waktu itu berasal dari Kota Jakarta harus merasakan hidup merantau menemani sang suami di Kota Tarakan. Bukan hanya itu. Kehidupan mereka diterpa lagi dengan kondisi ekonomi yang sulit. Gaji bapak yang hanya cukup untuk makan membuat mama harus tetap setia dan memberikan doa dan dukungan kepada bapak. Pelajaran untuk manusia, sedang di kondisi senang saja terkadang kita bersikap antipati bahkan tidak setia dengan pasangan kita. Saya merasa orang tua saya memberikan inspirasi dan pembelajaran mendalam untuk saya, terutama sebagai perempuan.

Pada saat itu, bapak mendapatkan beasiswa untuk dapat bersekolah di Inggris. Saya tau persis bapak saya. Beliau orang pandai yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Pada akhirnya, tawaran tersebut diambil oleh bapak. Tanpa ragu, bapak bergegas menuju negara tersebut untuk menimba ilmu. Saat itu, teknologi belum canggih seperti sekarang. Mama dan bapak hanya berkomunikasi lewat wartel atau warung telepon. Hanya wartel yang dapat diandalkan oleh mama saya yang berada di Indonesia. Ketika itu, mama ke Jakarta agar tidak sendirian dan dapat berkumpul dengan keluarganya sembari menunggu bapak kembali ke Indonesia. Harga wartel yang mahal untuk mama saya karena harga interlokal, membuat mama dan bapak hanya berkomunikasi sebentar dan tidak sering. Tetapi, mereka tetap punya rasa percaya masing-masing dan punya integritas.

Lagi-lagi, satu hal yang saya pelajari. Di era teknologi sudah canggih bahkan menjadi racun bagi beberapa manusia, banyak manusia yang tidak tahan dan tidak puas dengan hubungan jarak jauh. Beberapa orang masih punya pandangan bahwa hubungan tersebut adalah hubungan yang hanya akan menghabiskan waktu bahkan tidak pasti. Saya pun pernah berpikir seperti itu. Lalu, bagaimana dengan orang tua saya? Bapak dan mama saya yang menjalin hubungan jarak jauh dengan modal kepercayaan satu sama lain. Mereka tidak punya telepon genggam, bahkan jarang berkomunikasi karena mahal. Tapi, mereka tetap dapat berhubungan dengan baik. Satu hal lagi, mereka dapat memberi ruang sendiri untuk masing-masing pribadi. Telah disatukan dalam ikatan pernikahan, tidak membuat mereka menjadi pribadi yang harus bersifat mengekang dan mengatur pasangannya. Mereka lebih memberi ruang dan kesempatan untuk masing-masing pribadi. Akan tetapi, kembali lagi, tergantung pandangan masing-masing manusia. Tidak dipaksakan untuk sama.

Mama memberikan bapak ruang dan kesempatan untuk mengejar mimpi dan pendidikannya. Bapak memberikan mama ruang dan kesempatan untuk menikmati sedikit waktu bersama keluarganya di Kota Jakarta sementara menunggu bapak kembali ke
Indonesia. Sepulangnya bapak ke Indonesia, sekitar 2 tahun setelah itu, saya lahir. Bapak dan mama saya menunggu kehadiran saya selama 6 tahun terhitung sejak hari pernikahan mereka. Sang Pencipta memang baik. Dia tau apa yang baik dan yang sangat kita butuhkan.

Dari sini saya belajar ketika saya berada di suatu kondisi sulit. Saya harus paham bahwa kondisi sulit diberikan Tuhan karena Tuhan tau kita mampu menghadapinya karena kita dimampukan dan diajarkan banyak sekali pembelajaran oleh Tuhan. Hal menarik yang saya lihat di dalam hidup saya, ketika saya harus belajar untuk menerima bahkan bersyukur atas semua keadaan sulit yang saya alami. Hal yang membuat saya takut untuk melewatinya adalah ketika saya berharap namun saya gagal untuk kesekian kalinya bahkan menangis dan tidak tau harus berbuat apa.

Saya belajar dari bapak. Kondisi sesulit apapun, beliau tetap melewatinya. Di kala beliau harus kerja keras sejak kecil, ketika beliau harus hidup dengan ekonomi yang pas-pasan, ketika beliau harus bersabar menunggu buah hati sebagai anugerah terindah dalam hidupnya yang membuatnya terlihat sempurna sebagai seorang laki-laki, bahkan kondisi-kondisi sulit ketika beliau harus punya rasa percaya bahkan harus membangun sikap agar dapat dipercaya ketika berada jauh dari mama saya. Hal-hal yang terdengar mudah, namun belum tentu kita semua dapat melewatinya dan tetap mengucapkan kata syukur di setiap
harinya.

Saya pernah bermimpi menjadi orang sukses dan bahagia. Waktu kecil saya pernah merasakan hidup kekurangan dan bersyukur itu pernah saya alami. Setidaknya saya menjadi seseorang yang lebih sederhana dalam memaknai hidup. Keinginan saya adalah kelak anak-anak saya sekiranya dapat hidup layak sejak kecil hingga mereka mandiri. Akan tetapi, keinginan tersebut bukanlah yang utama. Bapak saya pernah bilang bahwa uang bukanlah segalanya. Hidup itu cukup. Cukup itu sudah lebih dari cukup. Hal penting dalam kata cukup adalah sehat, bisa makan, bisa sekolah dan bisa punya waktu untuk keluarga. Cukup seperti itulah yang bahagia.

Ketika saya masih berada di bangku Sekolah Dasar, saya ingin seperti teman-teman saya. Saya bisa punya rumah yang bagus dan besar, saya bisa naik mobil setiap hari ke sekolah, saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan. Dulu keinginan saya adalah dapat punya telepon genggam seperti teman-teman saya. Tapi, kondisi ekonomi membuat mama saya berkata seperti ini, “kamu itu beda sama teman-teman kamu, kamu minta, baru bisa mama dan bapak kasih 10 tahun lagi, makanya belajar yang pintar”, kata mama.

Dari hal-hal kecil itulah saya belajar untuk hidup serba cukup. Sederhana. Tapi tetap bahagia. Tidak ada indikator bahwa hidup bahagia diukur dengan harta yang bergelimang. Pemikiran saya di waktu kecil, remaja hingga saat ini cenderung berubah.

Satu hal yang mau saya katakan, terima kasih kepada Tuhan karena menitipkan saya kepada dua orang yang teramat tepat untuk menjaga saya menghadapi dunia ini. Saya tidak pernah khawatir dan merasa sendiri di kala mungkin orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Bapak dan mama selalu berada disamping saya. Saya tidak perlu sesulit itu untuk tergila-gila dengan seorang idola bahkan meniru segalanya. Saya cukup menjadi diri saya sendiri karena merasa bermakna dan dihargai oleh bapak dan mama.

Saat itulah saya merasa bahwa idola saya sesungguhnya adalah bapak dan mama. Orang-orang yang selalu yang bawakan Namanya dalam doa dan selalu saya syukuri di dunia ini. Sosok idola yang selamanya akan menetap di hati dan pikiran saya. Proses hidup mereka yang menjadikan saya kuat dan tamparan keras bagi saya yang sampai sekarang masih sering mengeluh dengan keadaan. Saya tau mengeluh itu wajar dan menusiawi. Hal itu menandakan kita adalah manusia yang sejatinya masih hidup di dunia ini. Tapi mengeluh bukan alasan untuk berhenti bergerak dan berharap. Masalah menjadikan kita semakin kuat dan tidak goyah.

Bapak dan mama bukanlah sosok idola sempurna karena sesungguhnya tidak ada manusia yang sempurna. Mereka juga pernah mengeluh dan kecewa. Akan tetapi, bapak dan mama adalah sosok idola ideal yang punya tempat tersendiri di hati saya.

Bapak pernah bilang,

jadilah berguna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment