Suatu hari, saya sejenak merenung, “untuk apa saya dilahirkan di dunia ini?”. Satu kalimat pertanyaan yang menjadi awal dari langkah menapaki hidup itu sendiri. Terkadang, kita tidak sadar bahwa kita punya peran penting di dunia ini. Individu punya perannya masing-masing. Bukan berarti kita hanya sekedar hidup di dunia ini. Hanya lahir, tumbuh dan besar menjadi remaja, bersekolah, kemudia dewasa dan bekerja, lalu menikah, memiliki anak dan kemudian memiliki keluarga kecil sendiri lalu hidup bahagia selamanya. Bahkan terkadang kita lupa bahwa sejatinya hidup ini tidak hanya tentang bahagia dan tidak hanya tentang melakukan rutinitas. Kita lupa ada sesuatu yang mungkin ingin diajarkan Sang Pencipta kepada kita.

Sifat egois yang dimiliki oleh seorang manusia terkadang membutakan mata hati seorang manusia. Ambisi yang menggebu, keinginan duniawi yang harus terpenuhi hingga nafsu masing-masing individu terhadap segala sesuatu menjadikan manusia lupa untuk berbenah diri dan mengapresiasi dirinya sendiri sebagai rasa bersyukurnya. Dulu saya tidak pernah punya kemampuan untuk berani bepergian sendirian dengan kendaraan umum. Saya sering bersungut-sungut ketika saya diharuskan melakukannya agar lebih mandiri. Namun, apa yang terjadi ketika saya dapat melakukannya? Saya lupa untuk mengatakan terima kasih kepada tubuh dan pikiran saya sendiri. Saya lupa untuk bersyukur. Kenapa?

Terkadang, hal kecil membuat kita sebagai manusia tidak merasa hal tersebut patut untuk disyukuri. Kita merasa bahwa hal tersebut hal yang lumrah dan wajib terjadi. Bukankah harusnya kita berterima kasih? Kalau tidak ada tubuh dan pikiran saya yang dapat diajak kompromi mungkin saya tidak dapat melakukannya dan menjadi manja. Bentuk apresiasi diri sebagai rasa bersyukur pun patut dilakukan. Bahkan hal ini yang akan membawa kita mengingat Sang Pencipta yang luar biasa. Kalau tidak ada Dia yang Maha Pemberi dan bermurah hati memberikan kekuatan dan kesehatan untuk tubuh dan pikiran saya, saya yakin tubuh dan pikiran pun tak dapat diajak kompromi.

Itulah mengapa kita harus tetap bersyukur. Energi positif yang datang amat sangat berarti dan bermakna untuk kita para manusia di muka bumi ini. Kita dapat menjadi pribadi yang terus bersemangat dan positif. Disitulah saya berfikir dapat menemukan jalan yang menuntun saya sekiranya dapat menjadi pribadi yang mengenal diri saya sendiri dan mulai memahami “untuk apa saya dilahirkan di dunia ini?”. Tuhan tidak pernah menciptakan kita hanya untuk sekedar hidup, tapi lebih dari itu. Mungkin dapat menjadi sesuatu yang besar suatu saat nanti. Kita dapat ditugaskan menjadi pemimpin seperti menjadi presiden atau bahkan direktur di sebuah perusahaan atau mungkin menjadi tenaga pendidik dan sebagainya. Yang jelas, setiap profesi yang dijalani dapat menjadi manfaat bagi banyak orang di dunia ini. Itulah mengapa jangan sekiranya menjadi hamba uang, karena materi adalah bonus. Tapi makna hidup yang seharusnya lebih diutamakan. Apakah kita dapat berguna bagi orang lain?

Terkadang hidup terkesan amat sangat mudah ketika kita dapat meraih seuatu yang kita inginkan bahkan sesuai dengan rencana hidup yang kita rencanakan sendiri. Ada kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri yang membuat seorang manusia kadang lupa untuk sekedar berterima kasih atau bersyukur kepada Penciptanya. Ketika tiba-tiba diperhadapkan dengan kondisi sulit pun seorang manusia dapat merasa kecewa, sedih bahkan menyalahkan Tuhannya. Sering gagal menurut saya adalah suatu pembelajaran. Hidup tidak memberikan kesenangan setiap saat. Selalu ada kekurangan di dalamnya. Gagal dalam mencapai sesuatu tentu pernah dialami setiap manusia dengan porsi dan waktu yang berbeda. Tergantung manusia mana yang dapat melihat makna dari kegagalan tersebut dan mau percaya bahwa ada sesuatu yang lebih besar. Walaupun, terkadang memiliki ekspektasi berlebih dapat membuat kita sakit ketika realitas tidak sebanding. Namun, bukankah di dalam hidup ini kita harus tetap bersyukur? Bukankah justru kondisi sulit itulah yang harus kita syukuri dan mengajarkan kita rasa amat bersyukur ketika suatu saat nanti kita dapat mencapainya?

Apresiasi diri sebagai bentuk bersyukur itu penting. Kita ini manusia, makhluk paling mulia diantara yang lain. Diberikan kuasa, akal dan pikiran. Pergunakan dengan sebaiknya dan tuailah apa yang ditabur nantinya.

Seseorang pernah berpesan, bersyukurlah setiap waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

  1. Terimakasih. Sejauh ini saya pu kadang sering melupakan ini. Namun pelan – pelan saya pun merasa demikian. Ingin menata kembali, dari hal” yang kecil. Terimakasih karena telah mengingatkan.

  2. I see you don’t monetize menjadimanusia.id, don’t
    waste your traffic, you can earn additional bucks
    every month with new monetization method. This is the best adsense alternative for any type of website (they approve all websites), for more info
    simply search in gooogle: murgrabia’s tools

  3. aku berterima kasih pada Anda karena telah membuat pikiran saya ‘nyala’ dalam menjawab pertanyaan itu. semoga Anda dilimpahkan kebaikan selalu.

  4. “Saya lupa untuk mengatakan terima kasih kepada tubuh dan pikiran saya sendiri. Saya lupa untuk bersyukur. Kenapa?

    Terkadang, hal kecil membuat kita sebagai manusia tidak merasa hal tersebut patut untuk disyukuri. Kita merasa bahwa hal tersebut hal yang lumrah dan wajib terjadi. Bukankah harusnya kita berterima kasih?”

    Itu bagian yang paling menghujam. Terima kasih yah sudah menulis dan mempublikasikan ini.

    Terima kasih sudah mengingatkan untuk berterimakasih.