Ironi Menjadi Wartawan: Menjual Idealisme

Jangankan dalam kelompok pekerjaan, saat duduk di bangku sekolah menengah pertama pun kita terbiasa memilih suara mayoritas daripada minoritas. Yang memegang kendali dengan keberpihakan atau lebih banyak yang setuju maka akan dipilih oleh keseluruhan kelompok. Tentunya konteks persetujuan itu datang dengan pola yang berbeda-beda. Ambil saja contoh dalam memilih presiden di Indonesia, jika saja salah satu kandidatnya beragama protestan dengan etnis berbeda yang kemudian disandingkan dengan tokoh beragama mayoritas, maka peluang untuk terpilih akan jatuh pada si mayoritas. Namun, bukan berarti si minoritas tak bisa bersuara.

Kira-kira begini, si kuat dan si mayoritas identik dengan besar. Barangkali inilah yang menggambarkan pekerjaan menjadi pelapor fakta di lapangan. Sebagai elemen yang paling kecil di lingkaran media, kamilah (jurnalis lapangan) yang paling dekat dengan masyarakat– yang paling merasakan apa yang terjadi dalam sebuah peristiwa, namun kembali lagi, bagian eksekusi akan seperti apa berita dikemas adalah milik si kuat. Pemangku atau orang yang membuat kebijakan media akan menjadi kiper atau pakar dalam memilih berita mana yang lolos di redaksi. Bahkan, berita yang dianggap sampah oleh masyarakat belakangan ini juga dijual di meja redaksi. Jelas aku tidak tahu berapa harganya, tapi begitulah alurnya berjalan.

Sebagai fresh graduate yang diberikan kesempatan untuk bekerja di media nasional, beberapa kali mata menangkap kebohongan. Jelas ini membohongi publik. Bagaimana mungkin kebenaran ditukar dengan amplop putih? Ini terasa seperti dagelan, tapi tak membuat rahang mengakak. Guyonan lainnya adalah narasumber tersohor yang mengaku memiliki koneksi di mana-mana dan katanya mampu membuat media takluk. Sudah lumrah atau inilah mungkin namanya budaya kroni, seperti orde baru dulu.

Aku mencoba beberapa kali mencari, di mana asal-usul lingkaran setannya? Tak kompetenkah aku dan tim jurnalis lainnya? Tak dibekalikah nilai dan prinsip jurnalistik? Atau karena jurusan seorang jurnalis yang berbeda dengan pekerjaannya?

Nyatanya, pertanyaan-pertanyaan yang muncul di permukaan kepalaku mati telak. Bukan, bukan soal si jurnalis yang tak punya daya tahan tinggi di lapangan, bukan soal wartawan yang tak memadai dalam soal liputan dan membaca lapangan. Faktanya, keputusan redaksi tetaplah keputusan tertinggi. Aku tak pernah diajari bernegosiasi menyoal memenangkan hati pemimpin dalam menyeleksi berita yang semestinya tidak dijual. Mirisnya, segala cara akan dilakukan untuk menerima rapor media dengan hasil yang memuaskan alias tidak ada tinta merahnya.

Ambisi yang tinggi dengan idealisme tinggi dipatahkan oleh realitas sesungguhnya. Yang tak kuat pada kenyataan pelan-pelan akan mundur karena idealismenya dicuri. Sedangkan yang bertahan akan tetap meneguk pil pahit sembari mempertahankan idealisme dalam hati.

Kehadiran digitalisasi memang mengamplifikasi sebuah isu hingga menjadi perhatian publik. Media mana pun tak ingin tertinggal, dari sudut pandang yang pantas hingga tak pantas dikorek habis-habisan. Judul-judul berita tak lagi diciptakan dengan bahasa kewibawaannya. Tetapi, menguak sesuatu hal yang tidak pantas namun bernilai fantastis untuk disiarkan.

Tak salah jika warganet menyalahkan dengan makian terhadap penulis atau wartawan. Kami juga terjebak di dalam lingkaran setan tersebut. Meski demikian jika dipikir-pikir, mengapa itu terjadi lagi? Jawabannya sederhana, karena pasarnya ada. Ada pasar mayoritas yang lebih kenyang dimakan sensasi. Ironinya, publik masih lebih banyak menyukai berita ke-kepo-an soal korban dalam berita hingga seperti apa perasaan korban. Barangkali para pemilik media asyik memainkan realitas dengan menjawab rasa kepo tersebut hingga alurnya tak pernah redam. Karena bagaimanapun juga asap tidak akan muncul jika api tak dinyalakan oleh si pemantik.

4.7 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top