Seikat

Jika tiap kita punya rumah untuk kembali, pastilah tiap kita punya tempat lain untuk bersembunyi. Jika memang darah lebih kental daripada air, kadang kala kita perlu air untuk dapat membasuhnya. Entah bagaimana, entah kenapa, selain keluarga yang memang hadir dan menemani kita tumbuh sedari lahir ke bumi, pastilah ada satu dua atau bahkan lebih, seseorang yang turut bertumbuh bersama kita. Meski kadang terbatas masa, ada mereka yang langkahnya beriringan selaras dengan kita. Mulanya orang asing, namun kini sedekat nadi. Mereka yang bernama ‘teman’ yang baru dalam kehidupan justru kadang lebih bisa diandalkan. Mereka yang mulanya entah datang dari antah-berantah mana, dapat mengerti diri kita lebih dari kita sendiri. Bukan menduakan keluarga asli, melainkan mereka kini pun menjadi bagian keluarga. Dari ragam yang saling dimiliki, kita dapat belajar lebih banyak untuk jadi manusia. Dan terkadang kita lebih senang merecoki mereka, hanya karena pernah merasa sama dalam satu perjuangan.

Hal yang kadang luput ketika sudah dalam batas kedekatan ini adalah hal menyepelekan, yakni merasa paling tahu satu sama lain sehingga menjadi kurang dalam menghargai. Jadi, sudahkah berterima kasih akan perjumpaan kalian, berterima kasih kepada mereka yang masih setia memahami dan selalu ada menemani, serta bersyukur kepada-Nya akan sebuah pertemuan ini?

Seperti dalam karangan bunga, manusia harus berbaur dengan manusia lainnya untuk menjadi manusia yang utuh; berproses dengan banyak hal, ditemani dengan kawan, dilindungi keluarga, seperti bunga seruni yang dirangkai dengan jenis bunga lainya supaya menjadi seikat yang cantik.

3.9 13 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Alf
Alf
1 month ago

Kereennn, deep sekali

Top