Satelit Tulalit

Setiap pertemuan pasti memiliki alasan, lalu membentuk makna. Entah seberapa lamanya hubungan terjalin. Semua berawal dari asing lalu saling mengisi, saling kenal lalu jadi teman, katanya.

Kita yang saling mengorbit, memiliki rotasi masing-masing. Jalur itu tersilang, membentuk sebuah papasan. Lalu berjalan beriringan, berdampingan saling mengisi dan saling berbagi, sama-sama menorehkan sebuah kisah.

Lalu pada suatu saat nanti jalur kita yang saling silang, saling beriringan, akan mulai berjauhan satu sama lain. Semesta kita pun tak lagi saling terkait, tak terhubung. Suatu saat perjalanan yang beriringan ini pun akan menemukan sebuah ujung, atau sebuah persimpangan. Entah akan berhenti di sana, atau memiliki jalur yang berbeda.

Kesannya hubungan pertemanan akhirnya lebih mudah ditebak. Hal bias-wajar, namun riskan-mudah untuk terputus, lalu menguap begitu saja. Seperti dua utas tali, yang tersimpul seadanya, seiring waktu hanya akan tererat atau terurai.

Mungkin suatu saat nanti simpul terurai itu akan terikat lagi, bertemu kembali. Namun bukan lagi simpul yang sama. Dari sekian hal yang dilalui, pasti tak akan sama seperti titik mula kita berjumpa. Proses dari masing-masing akan sedikit banyak memengaruhinya.

Satelit tulalit yang sedang tersimpul kepada semestaku, mari kita habiskan waktu dan penuhinya dengan kenangan, persiapkan bahwa persimpangan ada di depan jalan; kepada satelit yang telah beriringan, terima kasih jejak rotasimu mewarnai memberi kenangan.

Setelah terlihat ujungnya–atau sebuah persimpangan. Suatu hubungan yang baik adalah seperti jalur setapak, di mana kita tidak tahu ujungnya. Maka kita hanya dapat terus berjalan dan beriringan. Tak berjanji semua akan selalu utuh, tapi aku masih ada di sini tidak beranjak pergi, bersedia saling mengisi.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top