Ketaksaan

Rasa dan perasaan adalah suatu hal yang mirip namun memiliki sebuah batasan atau bisa jadi sebuah kesatuan. Ada banyak ragam rasa dan emosi pada manusia, dari beberapa hal itu “bahagia” menjadi sebuah tujuan bagi manusia. Teori ini mungkin memang ada benarnya, bahkan ketika seseorang yang sudah memiliki segalanya namun tidak merasa bahagia, apakah itu dapat menjadi sebuah makna untuk dirinya? Bagi setiap orang bahagia memiliki definisi masing-masing, dengan cara masing-masing, dan standarnya sendiri. Saat seorang balita diperbolehkan bermain pasir atau mendapat sebuah permen sudah membuatnya bahagia. Namun mungkin bagi saya saat itu, saya belum bahagia jika belum memiliki sebuah mainan, karena saya ingin. Lalu untuk saat ini mungkin bersua dengan orang terdekat, berbagi cerita dan emosi secara langsung merupakan kebahagiaan.

Sore itu saya memenuhi janji dengan teman, bahkan waktu yang ditentukan pun secara dadakan satu hari sebelumnya. Selain karena masa pandemi ini kami juga sulit bertemu dan karena sudah memiliki kesibukan masing-masing, kami juga baru saja sama-sama menyelesaikan sebuah jenjang studi. Situasi memaksa kami hanya berbagi melalui jaringan telepon. Saat bertemu di era new normal ini, kami berceloteh berdiskusi ke segala arah. Entah mengapa kami bisa merasa lega dapat bersua, dan dari pembicaraan kami, kami dipaksa menemukan kesenangan kecil dalam ruang gerak terbatas. Setidaknya kami berhasil mengatasinya, nyatanya kesenangan bisa menjadi sebuah kebahagiaan kecil.

Lalu di dalam kepala saya bertanya, apakah itu kebahagiaan? Sungguhkan itu sebuah tujuan? Sepanjang hidup di zona nyaman, tidak ada hal terlalu serius untuk dikhawatirkan terkecuali dilebih-lebihkan. Tapi apakah saya telah menemukan sebuah kebahagiaan itu? Lantas timbul lagi pertanyaan, kebahagiaan itu dicari atau diciptakan?

Pertanyaan-pertanyaan itu masih saya gantung pada sebuah malam-malam panjang. Entah bahagia itu dicari ataupun diciptakan. Hingga suatu waktu terbisik di kepala, jawabnya adalah “dirasakan”. Bagi saya rasa itu tidak boleh digantungkan kepada hal lain, terlebih kepada orang lain. Sebagaimana bisa bertahan pada pijakan sendiri. Karena setelah ditarik garis secara sederhana, bahagia adalah salah satu sebuah reaksi bagaimana menanggapi dan menerima sebuah kenyataan, bagaimana merasa cukup dan bersyukur, berdamai dengan diri. Karena yang membuat rumit adalah bagaimana kita berekspektasi, bagaimana kita dipandang orang lain dan mencari pengakuan. Sebuah validasi dari orang lain, bahwa bahagia yang dirasakan juga terlihat lebih keren daripada yang lain, manusiawi.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top