Kesal Sesal

Pada tapak beralas ragu, kadang berbuah sesal. Kadang tampak, tak terlalu atau justru amat biru. Pada sesal, buah dari segala yang telah berlalu kadang perlu untuk dirasa ada. Ada untuk mengutuhkan manusia dari segala rasa. Ada untuk pelajaran wawas diri. Pada tiap-tiap peristiwa yang tak terduga, berujung penanganan seadanya. Jika saja dari awal ditangkap dengan sedikit lebih giat, mungkin saja sesal tak terjadi.

Sesal tumbuh secara alami. Respons murni pada sebuah peristiwa atau bahkan kepada diri sendiri. Rasa kurang akan selalu hinggap, mengakar menjadi sesal. Namun jika ditimbang, akar sesal juga yang membuatku tumbuh dan belajar. Salah satu hal penguat tapak untuk bertahan, menjadi perisai alih-alih hal lalu akan terulang kembali.

Sesal, aku berdamai denganmu. Bawaan masa lalu, hal-hal yang sepertinya memang diatur semesta untuk menguatkanku. Untuk membentuk diriku menjadi tangguh yang sekarang. Mungkin masa kini yang berlalu, akan memperkokoh tangguhku nanti. Situasi sulit hanya akan menempa diriku. Pada masa-masa sulit yang lalu, nyatanya telah mampu dilalui. Sesal jangan datang lagi. Karenamu masa lalu tampak begitu bebal seakan berat untuk ditinggalkan. Berdamai denganmu, kini aku juga berdamai dengan masa lalu. Biarkan biru menjadi bagian dari warnaku.

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top