Emak

Aku ingin berbagi kisah dari seorang Emak yang usianya sudah melewati sepuluh windu. Sudah cukup dibilang renta. Sudah banyak yang dilaluinya. Bahkan sudah ditinggal pergi suami juga anaknya, mendahuluinya. Sudah yatim piatu di usia muda. Semenjak itu, tidak ada yang cukup berarti untuk membuat duka bagi Emak. Semenjak kecil, Emak juga sudah terbiasa hidup keras. Lahir di era negaranya yang baru merdeka, situasi sulit keluarga, lalu apa lagi yang paling menyedihkan bagi seseorang ketika ditinggal oleh orang terkasih? Apalagi yang paling melukai hati bagi seorang ibu yang harus melihat anaknya pergi mendahului dirinya? Bukan hanya sekali, tetapi dua kali, dua dari asta bocahnya, bukan saat jabang bayi, melainkan ketika sudah dewasa. Sudah banyak kenangan yang dilalui, banyaknya ia merawat dan mencurahkan kasihnya. Bukankah sangat amat rasa kehilangannya? Pedih.

Bagi Emak, itu bukan cobaan Tuhan. Tetapi memang suatu hal yang tergaris, suatu hal yang tak bisa ditentang. Berjalan dengan mudah dan menikmati hidup adalah hal yang dicari bagi banyak orang. Namun, tetap berjalan dan melewati rintangan dengan berteguh adalah keharusan. Apa-apa yang ada pastilah sebuah rencana, agar semesta tetap seimbang, dan apa-apa yang terjadi pastilah dapat menguatkan manusia.

Bagi Emak, hidupnya juga cukup: untuk menjalani hari-harinya; untuk dirinya dan anak serta cucu yang masih ditanggungnya. Karena bagi Emak, hidup bukan sekadar bernapas, bergerak, dan menjalani hari-hari seperti sebuah keharusan, tetapi juga bertumbuh; berpikir apa yang bisa dilakukan untuk orang lain, bukan menjadi beban, melainkan peringan dengan riang. Bagi Emak, setiap hari akan menjadi pembelajaran, akan meneguhkan diri menjadi kukuh, semakin tegak.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top