Desember

Bulan dua belas, tanggal tiga belas, adalah hari yang aku peringati sebagai kelahiran indungku. Dan pada tanggal dua puluh dua bulan dua belas, seluruh penjuru memperingati akan perjuangan dan peran sosok-sosok tangguh sepertinya. Aku pikir, waktuku dengannya masih lama. Aku pikir kita masih bisa mewujudkan cita-cita bersama. Aku terlalu sering menunda dan mengabaikan, hingga pada momen-momen seperti ini aku memanfaatkan untuk sebuah selebrasi perayaan. Lalu biasanya aku menyiapkan pernak-pernik mewah, tak tertinggal secarik surat. Berisi kata-kata manis ucapan terima kasih dan syukur. Diselipi janji-janji manis yang belum tentu dipenuhi.

Namun, mengenai ulang tahun, aku jadi berpikir ulang. Jika ditarik ke belakang, saat-saat kita dilahirkan sebenarnya adalah hari pertarungan bagi ibu, menaruhkan antara hidup dan mati, membawa nyawa baru ke bumi ini setelah perjuangan panjang selama sembilan bulan. Jadi seharusnya yang diberi selamat bukan hanya kita yang sudah lahir saat itu, tapi juga dia yang telah melahirkan kita.

Tapi ternyata tidak serumit itu kebahagiaannya. Ketimbang hanya simbolis dan perayaan pada suatu musim dalam setahun. Hal-hal kecil meringankannya, seperti: ada untuk sosoknya atau sekadar mendengarkan perkataan dan petuahnya; melakukan hal-hal kecil, sekadar menarik seprai kasur dan melipat selimut sendiri selepas bangun tiap pagi; merapikan barang-barangku sendiri atau membantu di dapur dan tidak menambah berat pekerjaan rumah adalah sebuah penghargaan yang cukup bagi sosok ibu.

Karena setelah kusadari, bukan hal mewah yang menjadi bahagia dan kebanggaan dari sosoknya yang lembut namun tangguh. Kebanggaan dan kebahagiaannya adalah sederhana, sebatas cukup. Sesederhana cintanya kepada kita yang tanpa syarat.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top