Cukup Menjadi Baik

Entah mengapa saat ini aku berprasangka, bahwa kebanyakan menjadi baik adalah karena sebuah tuntutan, bukan sebuah kesadaran. Terlebih untuk jadi yang terbaik. Padahal kebaikan sudah ditanamkan sedari kecil dulu. Lalu mengapa sekarang justru memudar? Seakan kebaikan adalah sebuah keharusan bukan suatu apa adanya.

Ego, entah mengapa menjadi biang keladi yang sulit ditaklukkan, dapat membuat hal kecil menjadi sebuah perlombaan tidak menyehatkan. Aku paham betul bahwa kita memiliki banyak harapan dan keinginan, dituntut ini-itu dengan sekian ekspektasi makhluk lain. Lalu berharap dapat mencapai pengakuan, yang semoga tidak diaku-akukan.

Kita hidup juga bukan untuk diri sendiri. Kita hidup berdampingan, bahkan memiliki sebuah tanggungan dan tanggung jawab. Tidak sepenuhnya kita bisa sesuka hati, karena masih banyak hati yang perlu dipedulikan secukupnya.

Jadi harus belajar lagi, belajar mengerti, mungkin juga perlu belajar mengalah. Belajar memahami, bahwa kenyataan belum tentu sesuai harapan; bahwa banyak hal yang berbeda dengan kita, belajarlah menghargai macam cara manusia dalam macam hal.

Konon, titik mula ada pada diri kita, yang memiliki garis waktu masing-masing. Berbaiklah pada diri sendiri, untuk menjadi baik bagi sesama. Bahagialah dengan caramu sendiri, tanpa mengambil hak yang lainnya. Ikuti bisikan nurani yang mungkin sudah lama tak kau dengarkan.

Tidak perlu menjadi yang terbaik, cukup menjadi baik. Karena sebaiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesama. Bahagianya tidak merugikan orang lain, tidak sesukanya menghakimi sesama.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top