Berselaras

Bagiku keluarga adalah sebuah rumah, rumah yang bukan hanya sekadar sebuah bangunan. Semakin dewasa, semakin kusadari. Rumah bukan hanya tempat untuk kembali. Rumah adalah dunia pertama bagi setiap manusia. Ketimbang siapa-siapa orangnya, rumah lebih tepat didefinisikan sebagai rasa. Rasa memiliki, rasa saling percaya, aman, dan nyaman; sebuah tempat yang selalu dirindukan, tempat yang paling dekat meski entah di mana keberadaannya.

Menjadi bagian dari rumah adalah peran yang biasa disandang bagi kebanyakan orang. Namun tak mudah untuk berperan dengan sungguh di dalamnya. Peran menjadi orang tua, sebuah tanggung jawab yang besar. Pun menjadi seorang anak, memiliki tuntutan ini itu. Di dalamnya tak selalu berjalan mulus, tak ada yang sempurna. Begitu pun tiap-tiap rumah yang ada; memiliki tiap cara, namun bagaimana cara saling berselaras.

Rumah juga tak hanya terjalin karena sebuah ikatan darah yang kental. Momen-momen yang tercipta di antara sesama, dan sebuah simpul-simpul kecil suatu hubungan bisa terjalin begitu kuat dan menjadi rumah. Bisa jadi, mereka yang selalu sedia bersama kita adalah sebuah rumah. Hal ini kudapatkan ketika rumah tak dalam jangkauan, sebagai perantauan. Terbatas jarak dan waktu. Rumah-rumah kecil tercipta.

Rumah adalah mereka yang paling tulus, jika ada hal buruk terjadi, bahkan ketika tidak ada yang mau menerima lagi. Akan selalu ada sudut rumah yang mau menerima dengan sungguh, menerima benar juga salahnya. Pada nyatanya, hanya rumah yang menerima kembali kapan pun; memberi tanpa minta kembali; menjadi zona nyaman dalam hidup; memberi kedewasaan dengan pengertian. Dan pada akhirnya, hanya rumah yang paling menerima apa adanya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top