Bayangan Becermin pada Air, Acak

Saat siang dengan langit biru, aku mematung di sudut ruang. Pikiran berkelana liar. Mengamati, berjalan jauh ke belakang. Tiba-tiba berandai lari jauh ke depan. Sungguh acak-acakan di dalam kepala. Banyak hal yang bisa menjadi bahan dan membuat penuh ruang isinya. Harus pandai-pandai memilah mana yang memang perlu diperdebatkan, mana yang sepatutnya disimpan atau dibuang. Menginjak usia dewasa muda dan waktu yang terasa beku karena pandemi ternyata telah melahap banyak kejadian dengan waktu yang terus merangkak maju. Lalu bagaimana dengan hidup ini? Dengan waktu yang tak mau kompromi menunggu, atau sekadar mengalah berjalan beriringan. Ia selalu terus maju. Lalu bagaimana dengan diri sendiri? Berkaca pada cermin tampak makin menua dan masih diam di tempat.

Tapi tidak, aku tidak tertinggal. Bagiku semuanya adalah pelari maraton dalam hidup masing-masing. Namun kami memiliki garis mulai masing-masing, jalur pacuan yang berbeda, dan tentu dengan garis finis yang berbeda pula. Seperti planet-planet yang mengitari matahari, kita memiliki jalur orbit sendiri. Atau seperti meniti bambu, kita memiliki lintasan sendiri, satu-satu dalam meniti supaya tidak saling mengacau. Berjalan menjaga keseimbangan. Kadang tak seimbang jatuh dan kembali pada titik awal. Pekara yang sulit. Tapi bukan perkara bagaimana lekas sampai finis, bagaimana menjadi planet, atau bagaimana menjaga keseimbangan; masalah terbesar manusia adalah menjadi manusia.

Bagaimana menjadi manusia yang tentunya selalu mengarah pada fitrahnya. Kali ini kembali berputar-putar dalam kepala. Berdiskusi dalam hati dengan diri sendiri cukup rumit. Teori banyak bertebaran, praktiknya? Sebuah eksekusi yang tidak mudah. Terkadang memang ada baiknya tidak terlalu dipikirkan dan hanya perlu melakukan. Sedangkan untuk saat ini hanya perlu bertahan untuk selalu dibentuk. Yang rumit itu isi kepala manusia. Setelahnya buyar, aku memilih kembali menerawang apa yang ada di balik awan dengan langit begitu biru. Sebelum beranjak melakukan apa yang bisa dilakukan, bukan hanya memikirkan saja.

4.5 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top