Surat untuk Bapak (1)

Hampir sembilan putar kalender ya, Pak.

Selama itu juga aku menyadari bagaimana waktu sudah merenggut banyak hal dari kita.

Ingatkah dulu ketika aku menyeruput kopi panas bapak setiap pagi?

Ingatkah dulu ketika aku begitu senang memboncengi motor tua bapak ke sekolah?

Ingatkah dulu ketika aku menangis dan bapak yang paling mahir menenangkan?

Semuanya terasa sempurna bagiku sebagai seorang anak perempuan, Pak.

 

Tapi waktu itu, tiba-tiba badai datang tanpa aba-aba.

Rumah kita terombang-ambing, hilang arah bahkan nyaris tenggelam.

Rasanya duniaku runtuh saat wajah sedu ibu datang kepadaku dan berkata bahwa bapak sudah membagi cinta.

Setelahnya aku menjelma kebal perihal adegan-adegan angkat suara dan lempar amarah.

Lalu kasih sayang, cinta, dan kebanggaan menjadi hal-hal asing dalam sekejap.

 

Barangkali sekarang semua sudah baik-baik saja, Pak.

Sebab bersama waktu, kita bahu-membahu memulihkan rumah yang dahulu.

Namun tetap saja, Pak.

Maaf yang sudah kugenggam tidak akan bisa mengembalikan rumah kita seutuhnya.

Ikhlas yang sudah kutanam juga tidak akan bisa menyembuhkan aku sepenuhnya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top