Realita Harga Mati

Pagi ini aku melihat ibu mengganti gulungan kalender
Diturunkannya kalender tahun lalu
Kemudian dipajangnya kalender tahun yang baru
Diperhatikannya betul tanggal-tanggal itu satu per satu
Barangkali sambil disematkan pula harapan-harapannya di sana
Boleh jadi tentang kulkas baru, daster baru, panci baru atau mungkin menantu baru

Berbeda dengan ibu,
Aku justru kebingungan melihat angka-angka hitam-merah itu berbaris
Aku bertanya pada aku yang bingung itu
Tahun ini akan seperti apa, ya?
Apakah putri malu tidak lagi menjadi malu jika kusentuh?
Apakah wijaya kusuma akan mekar saat aku menunggunya sepanjang hari?
Apakah kupu-kupu bisa memilih tinta warna yang akan memeluk sekujur tubuhnya?

Kupikir banyak dari kita yang sebelumnya berjalan dengan memerangi realita
Melangkah di atas tapak-tapak yang kita damba tapi asing di mata manusia-manusia
Hingga akhirnya kita kelelahan lalu hanya disisakan satu pilihan dari sedemikian pertimbangan
Menjadi manusia yang sekadar menjalani hidupnya dan menjalani hidup sekadarnya
Dan aku, satu diantaranya

Pada tiap-tiap tahun yang berlalu dan berganti baru
Aku hanya menaruh rapal-rapal kecil di dalamnya
Panjang umur untuk setiap kebaikan dan kebersyukuran

3.7 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top