Kala Kulihat Cermin

Kala kulihat cermin, ketakutan itu masih gagah mengitari bola mata. Suara pecahan gelas itu juga masih sering melintas di telinga, disusul riuh isak ibu yang turut memenuhi isi kepala. Rasanya gerombolan kenangan itu kadang mengguyur tanpa aba-aba. Mereka tidak mengetuk pintu dahulu atau sekadar menyapa.

Kala kulihat cermin, aku masih melihat diriku dalam satu dekade yang lalu, yang kebingungan dihujani tanya dan tidak tahu mencari jawabnya. Hidupku yang waktu itu di ambang pilu melihat episode-episode pertengkaran ayah dan ibu, yang juga dijejali pikiran perihal perpisahan dan pilihan.

Kala kulihat cermin, mereka terasa masih nyata adanya. Padahal jelas-jelas sudah sedari lama kupusarakan di dalam dada. Bahkan juga kutaburi butir-butir ikhlas di atasnya, berharap suatu hari mereka akan benar-benar mati, tidak lagi mati suri yang berulang kali.

3 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top