Aku Membaru

Sayup-sayup kantuk masih memeluki kedua netra. Pekik merdu tukang sayur menarik tubuhku duduk di teras rumah. Pukul tujuh pagi disengati baskara yang masih malu-malu. Disuguhi sekawanan merpati yang mungkin sedang berbincang atau ingin pemanasan terbang, semilir kepakkannya lembut menyapu wajah. Lelangit biru di pelupuk mata begitu menenangkan.

Sesaat aku memejam seraya menghela napas. Jiwaku bergetar merasakan kebaikan-kebaikan semesta. Bukankah seharusnya aku jatuh dalam kebersyukuran nikmat-nikmat Tuhan? Mengapa selama ini aku justru hanyut dalam pekatnya malam; dibudaki kesedihan dan kenangan; digaungi ketakutan?

Perlahan aku membuka mata. Bulat ranum keyakinanku kali ini. Langkahku hari ini harus menggugurkan durja yang lama mengakar. Lengkung bibirku hari ini harus mengganti memori-memori yang dibalur perih. Hari ini dengan segenap kalbu, aku membaru.

3.3 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top