Dalam Pelukan Semesta

Menerima adalah hal terbaik yang bisa saya lakukan pada tiap-tiap bait semesta yang dengan sengaja dikirimkan agar saya bisa bertumbuh.

Menerima segala riak, pelik, hingga rasa tercekik yang dikirimkan semesta untuk menuntun saya lebih dewasa, itulah bentuk cinta yang paling indah dalam setiap proses kehidupan saya.

Segala bentuk cinta semesta pada tiap-tiap fase kehidupan akan terus menghampiri setiap jiwa yang setia menunggu kejutan demi kejutan yang diberikan semesta, lalu dengan ikhlas akhirnya akan menerima segalanya, apa adanya.

Seperti daun-daun di pekarangan rumah yang jatuh tertiup angin, tapi daun-daun itu sama sekali tidak meneriaki angin. Sama seperti ibuku yang dengan sabar diiringi senyum tulus, membersihkan daun-daun jatuh di pekarangan rumah, ibuku juga tidak membenci angin. Karena daun yang jatuh dan ibuku sama-sama tahu angin yang dikirimkan semesta walaupun menjatuhkan dan menyakitkan, itu merupakan bentuk cinta semesta.

Pasti tiap-tiap jiwa hanya mengharapkan dan mencintai hal-hal baik, hal-hal yang tidak membakar habis raga ini dan segala hal yang bisa melupakan masa lalu yang mencekik. Sama seperti saya yang hanya mengharapkan hal-hal seperti itu. Seiring waktu, saya tersadar bukankah yang terjadi di hidup saya itu merupakan bentuk cinta semesta? Saya terlalu sibuk membenci segala hal dan tidak mengenal apa itu menerima.

Rasanya lebih damai hidup dalam pelukan semesta, mengagumi dengan dalam setiap skenario yang diberi semesta. Sekarang, menerima adalah hal terbaik yang bisa saya lakukan untuk bisa memeluk semesta. Menyelami segala bentuk cinta semesta, berusaha yang diiringi doa-doa baik yang selalu saya bisikan kepada semesta. Sisanya biar semesta yang menentukan, apa pun itu  saya akan menerima dan mencintai semesta dengan sebaik-baiknya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top