Pelajaran Berharga

Perihal masa depan memang sering kali membingungkan. Harus seperti apa masa depanku? Harus dengan proses yang bagaimana? Harus dengan siapa?

Langkah demi langkah telah kulalui. Kegagalan. Keberhasilan. Kesedihan. Kebahagiaan. Kekecewaan. Seolah silih berganti hadir di hidup ini.

Sebuah pelajaran berharga tentang ketidaktahuan diri sendiri terkait batasan pun telah mengubah pandanganku. Batasan terhadap manusia lain, misalnya. Kuberikan segalanya yang kupunya. Pada awalnya, aku kira cinta memang seperti itu.

Pengorbanan, perhatian, ketulusan, dan kesabaran, aku memberikan itu semua dengan sepenuh hati, setiap hari, sebagai rutinitas. Dan kamu adalah rutinitasku selama bertahun-tahun. Aku selalu ingin tahu tentangmu, keadaanmu, keluargamu, bagaimana harimu, dan segelintir pertanyaan tidak penting lainnya. Mengapa? Lagi dan lagi, karena kukira cinta memang seperti itu. 

Namun, ternyata aku tetap merasa kosong. Aku memberikan itu semua sebagai harapan bahwa aku juga akan mendapatkan hal yang sama. Ternyata, ruang ekspektasiku tidak terisi. Aku kalut. Kecewa.

Pada akhirnya, rutinitas tersebut menjadi sesuatu yang menyebalkan, menurutmu. Tidak lagi menyenangkan, tidak lagi mendebarkan, tidak lagi membuatmu tersenyum. Semakin hari semakin gelap. Tidak ada titik terang. Dan semua itu kamu simpan seorang diri. Tanpa pernah kamu ucapkan bahwa tindakanku keliru, tanpa pernah mengingatkanku bahwa cinta tidak harus seperti itu.

Aku masih bergeming. Pikiranku bercabang. Aku tidak tahu harus mulai belajar dari mana? Ibarat ujian tengah semester tanpa kisi-kisi. Clueless.

Andai kamu tau yang aku butuhkan hanyalah komunikasi yang hangat. Aku hanya butuh ditanya apa yang sedang aku rasakan dan mengapa aku merasa seperti itu? Namun, sering kali kamu diam. Diam. Diam. Seolah masalah hari kemarin sudah selesai dengan diam. 

Aku tidak pernah diberi alasan tentang segala hal yang berkelumit di pikiranku. Mengapa? Segala pertanyaan mengapa tersebut hanya dibalas dengan diam. Hanya diam yang kuterima hingga saat ini.

Di saat aku masih berusaha memperbaiki dan menerka-nerka segala opsi.

Tiba-tiba, aku tersadar.

Hatimu tidak di sini lagi. Seberapa besar pun aku mencoba mempertahankan, tetap tidak bisa jika hanya kulakukan seorang diri.

Entah aku yang terlambat memperbaiki diri atau memang kamu yang tidak memberikanku kesempatan untuk memperbaiki. Namun, bukankah seharusnya kita saling memperbaiki? Bukan aku saja. Coba bercerminlah, apa yang sudah kamu lakukan terhadapku.

Entah aku yang memang selalu egois atau kamu yang selalu silau dengan perhatian dan kebaikan dari orang lain. Adilkah? Di saat aku masih ingin berjuang memperbaiki, kamu melepaskanku demi orang lain.

Hubungan itu perlu kerja sama. Segigih apa pun aku berusaha, jika hanya sendiri, ya tidak bisa. Jika kamu tidak ingin di sini lagi, untuk apa aku terus memaksa? Perlu kamu ketahui, bumi tidak berputar hanya untukmu. 

 

Sampai di titik aku merasa tidak butuh lagi jawaban.

Benar atau salah. 

Menang atau kalah. 

Hadir atau pergi.

Aku atau perempuan lain.

Pada akhirnya aku tidak butuh lagi penjelasan itu semua.

 

Kamu berpaling.

Itu jawabannya yang sudah aku tau dari lama, tetapi selalu aku tutupi dengan pengharapan bahwa kita tetap akan bertahan selamanya. 

Bodoh.

Entah aku hanya takut dengan kesendirian atau memang tidak bisa melepaskanmu lebih dahulu, aku tidak tau.

Sampai akhirnya, kamu yang melepaskanku.

Terima kasih, ya. 

Mungkin aku akan lebih hancur dari saat ini jika kita masih bersama.

Sebagai manusia loyal, perselingkuhan tetap tidak berterima di otakku. Apakah pengorbanan, perhatian, ketulusan, dan kesabaranku selama ini kurang untukmu?

Mengapa harus ada perempuan lain?

Selingkuh itu kesadaran. Dan kamu sadar melakukannya.

 

Setelah hari ini, biarkan aku pergi seutuhnya tanpa perlu menangisi dan menyesali hari kemarin. Pelajaran berharga ini membuatku semakin kuat, setidaknya aku percaya hal itu. Jika belum sepenuhnya kuat saat ini, ya mungkin suatu saat nanti.

Aku paham akan pentingnya mencintai diri sendiri terlebih dahulu, sebelum mencintai orang lain.

Dan aku percaya, semua makhluk berhak bahagia. Tanpa terkecuali.

Jika memang bahagiamu bukan bersamaku, tidak masalah. Semoga kamu selalu bahagia dengan pilihanmu. Dan semoga aku juga akan bahagia. Segera.

Hari ini aku belajar bahwa bahagia itu tanggung jawab masing-masing individu, bukan orang lain.

 

Teruntuk diri sendiri, terima kasih sudah bertahan setelah merasa sepahit dan sehancur ini. Kuatkan bahu, lapangkan hati, dan tersenyumlah.

Selalu ada pelangi setelah hujan badai, kan?

2
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Eka Puti Bunga KemalaDila Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Dila
Guest
Dila

Sangat relate dengan kondisi saya saat ini. Terimakasih Mbak Eka, dan Menjadi Manusia sudah mewaliki kata-kata yang tak mampu diucap🤍🤍🤍

Eka Puti Bunga Kemala
Guest
Eka Puti

Terima kasih juga, ya, Mba Dila. Tetap semangat 🙂

Top