Sekali Tebas, Kena Dua!

Memasuki tahun 2020, rasanya degup jantung ini masih tenang-tenang saja. Hal yang paling dikhawatirkan hanya usiaku yang mulai bertambah menjadi satu tahun lebih tua dari saat itu.

Malam memasuki tahun 2020, sering kali dikenal dengan malam tahun baru. Malam itu, aku dan keluarga menghabiskannya dengan membakar jagung, sosis, dan makanan-makanan yang sebagian besar tidak banyak vitaminnya.

Akhirnya, bulan Februari datang. Umurku saat itu benar-benar bertambah. Setelah berbagai macam pesta perayaan kulalui, Februari usai.

Pertengahan bulan Maret, aku mulai merasa ada yang aneh dengan tahun ini. Setelah aku mempersiapkan diri untuk pulang ke rumah di hari Paskah bulan April, ibu memanggilku lewat telepon genggamnya.

“Ga, udah beli tiket kereta?” Kata mama setengah khawatir.

“Udah Ma, aku lewat Lempuyang ya. Kereta ekonomi adanya dari Lempuyangan nih Ma,” kataku tak sabar menunggu waktu pulang.

“Ya udah. Tapi, coba kamu percepat aja ya pulangnya,” kata mama lebih khawatir.

Saat itu, aku mulai ikut khawatir. Dalam hati, aku berbicara, ada apa sebenarnya dengan mama?

Tapi ternyata yang salah bukan kekhawatiran mama, yang salah adalah tahun ini, 2020.

Singkat cerita, mama bilang kalau bulan Maret itu gawat. Katanya, ada virus mematikan dari Cina. Namun sebenarnya, desas-desus ini sempat dibicarakan di lingkungan kampus.

Akhirnya, aku memutuskan untuk membeli tiket pulang ke rumah lebih awal sebelum Paskah tiba. Tak disangka, ternyata hari itu adalah pertemuanku yang terakhir kali bersama dengan teman-teman di kampus, hari ketika aku dan teman-teman mengerjakan UAS (Ujian Akhir Semester) secara berkelompok. Hari berganti, keadaan semakin tidak menentu.

Semester berikutnya semakin meresahkan, mengingat, di semester berikutnya aku harus sudah menjalankan program magang dan skripsi.

Belum jelas arah regulasi dari kampus terkait magang di semester berikutnya akan berjalan seperti apa. Pasalnya, program magang yang diadakan oleh perusahaan biasanya dilakukan dengan cara mendatangi perusahaan.

Ditambah lagi, saat itu aku masih bingung harus mengambil topik skripsi yang bagaimana. Semua kegelisahan ini bercampur jadi satu di pertengahan tahun 2020.

Aku sangat khawatir jika pada semester berikutnya aku akan gagal. Ditambah lagi, teman-temanku di kampus juga belum menunjukkan tanda-tanda akan menjalankan semester berikutnya dengan baik.

Semesta bergulir, aku mulai bersimpuh dan merapatkan tangan untuk berdoa, meminta segala yang terbaik untuk tahun ini.

Memasuki bulan November, aku mengalami beberapa permasalahan psikis yang membuat teman dekatku bilang,

“Ga, kayaknya lu harus ke psikolog deh,”ujar Cecil, temanku semasa SMA.

Mungkin di tahun sebelumnya, saran ini bagai guyonan untukku. Tapi, berbeda dengan saat itu. Aku merasa kondisiku sedang ada di titik yang sangat tidak baik, dimulai dari hubungan dengan orang tua yang tidak baik, hingga hubungan dengan pacar yang putus nyambung.

Lelah fisik dan psikis membuatku berhenti di satu titik, dan merasa saran dari temanku adalah yang terbaik.

Satu hal yang kutahu, aku perlu sembuh untuk bisa mendapatkan hal-hal baik.

Untuk pertama kalinya, aku berkonsultasi dengan Rahma, seorang konselor yang sudah ahli di bidang Psikologi.

Percakapan yang berisi keresahan mulai kujalani. Perlahan-lahan aku mulai mengerti, apa masalahnya.

Perlahan aku juga mulai mengerti, cara menghadapinya.

Betul, saat sudah selesai menjalani konseling pada hari itu, aku mulai siap menghadapi hari yang penuh dengan keresahan.

Tak disangka, tahun yang penuh dengan problematik ini membuatku bisa melewati dua tahap untuk lulus sebagai sarjana di kampusku. Tak disangka aku yang dikira akan gagal, bisa dua langkah lebih awal di tahun ini!

Terima kasih diri ini, kamu hebat sudah berani sembuh.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top