Apa yang Sedang Kaurasakan Akhir-Akhir Ini?

Jujur, kalau ditanya aku lebih suka Jogja atau Bandung, jawabanku ada di kota kembang, bukan kota pelajar.

Perjalananku di kota Bandung, berawal saat aku sangat ingin melanjutkan sekolah di SMA yang berada di bawah naungan suster. Suster dalam hal ini adalah, biarawati.

Awalnya, seperti kebanyakan perantau yang pergi untuk belajar, aku merasa tidak nyaman. Aku rindu rumah, masakan ibu, berkumpul dengan keluargaku, terlebih aku rindu saat bangun pagi lalu aku tidak perlu repot memikirkan mau makan apa hari ini.

Karena tiap hari, ibuku sudah menyiapkan makanan kesukaanku. Setiap pulang ke rumah, keluargaku selalu mengajakku jalan-jalan. Tidak lain, mereka juga sangat merindukanku. 

Tiba-tiba aku sudah menyelesaikan masa studiku sebagai siswa SMA. Tentunya, aku sudah harus memikirkan nanti aku harus lanjut kuliah di mana?

Berhubung aku bukan tergolong sebagai siswa yang ambisius untuk berkuliah di perguruan tinggi negeri, akhirnya, aku dan keluargaku setuju jika aku melanjutkan studi di Jogja. Keputusan ini bukan benar-benar karena aku menginginkannya. 

Suasana di Jogja terasa lebih menyakitkan daripada di Bandung. Meski aku sudah punya pengalaman merantau selama di Bandung, aku tetap merindukan pulang ke rumah.

Hari demi hari aku lalui, selalu sedih, lelah, dan kesepian. Hingga suatu saat, aku susah tidur karena terlalu sedih memikirkan ini itu.

Kamu tau apa yang akhirnya membuat aku bisa tidur? Menjadikan rasa sedih, lelah, dan kesepian itu sebagai sebuah rasa nyaman.

Aku menikmati rasa-rasa itu, dan aku mulai terbiasa. Meski situasi tidak berubah, aku berusaha untuk menjadikan diriku nyaman dengan rasa yang sama sekali tidak enak itu.

Nyaman dengan kondisi yang awalnya sama sekali tidak kusukai, menjadi salah satu kebiasaan baru di hidupku. Kebiasaan itu kubawa hingga saat ini.

Pandemi membuatku harus memboyong semua barang di Jogja lebih cepat daripada semestinya. Meski awalnya rumah adalah tempat yang paling aku rindukan, di sini aku malah belajar untuk lebih nyaman dengan keadaan yang kupikir secara otomatis, rumah adalah tempat paling nyaman. Ternyata salah, aku tetap harus berusaha agar bisa nyaman.

Aku belajar untuk di rumah saja, mulai dari belajar, beribadah, hingga aktivitas lainnya. Memang bukan hal yang mudah, berdiam di rumah bagaikan level baru dari sebuah rasa nyaman.

Kendati Jogja bukan kota favoritku, setidaknya aku jadi punya makna lain tentang rasa nyaman.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top