Kontrol Diri sebagai Inti Proses Menjadi Dewasa

Dahulu, kukira dewasa itu mudah. Aku kira menjadi bertanggung jawab dengan diri sendiri adalah hal kecil. Menahan segala amarah yang memenuhi darah, kupikir seperti menahan keinginanku untuk membeli es krim stroberi. Mengumpat serapah agar emosi berlalu cepat aku rasa semudah berteriak kesakitan saat teman sebangku sekolah menggigitku. Aku hanya bisa membayangkan menjadi dewasa akan berlalu dengan mudah. Semudah menentukan mimpi di kala sepi, semudah memperjuangkan asa yang menggebu jiwa.

Seiring berjalannya waktu, aku sadar bahwa menjadi dewasa itu selamanya. Tidak ada titik ujung yang mempertemukan kita dengan garis akhir kedewasaan. Tidak ada yang pasti mengenai kapan kita harus berhenti menjadi seseorang yang mandiri. 

Malam membawaku pada sejuta tanda tanya, apa aku kini sudah menjadi dewasa? Apakah aku akan berhasil menjadi seorang pelaut ulung suatu hari nanti? Malam mengubahku menjadi gadis penuh air mata. Alirannya dipenuhi kesesatan dalam mengolah rasa, sedihnya dibelenggu emosi tak terhingga.

Sampai pada suatu pagi aku bangun dari kegelapan mimpiku, membuka mataku dengan sebuah narasi penuh arti: menjadi dewasa tidak perlu melawan siapa pun dan apa pun. Menjadi dewasa tidak perlu membendung air mata, menutup mulut saat ingin berteriak, atau menggenggam seribu pukulan emosi. Luapkan saja, toh yang paling terpenting adalah mengontrolnya.

Hal terpenting inilah yang menjawab perkiraanku. Menjadi dewasa tidaklah mudah. 

Aku tidak sedang menjadi pujangga yang memberi kata-kata penuh makna. Aku hanya sedang bercerita tentang apa yang aku rasa, apa yang aku pelajari, apa yang membenturku hingga menjadi seperti ini. Aku hanya sedang ingin memberitahumu bahwa kunci menjadi manusia dewasa adalah mengontrol segalanya agar tidak meluap, membanjiri diri dengan hal yang tidak pasti. 

Bahagialah secukupnya. Bersedihlah sepantasnya. Marahlah seperlunya. Semua perlu diutarakan dan dibuang.

Aku ingat ketika kecil, aku merengek kepada Ibuku untuk dibelikan baju baru. Aku akan marah tak keruan apabila mauku tak dipenuhi. Layaknya Ibu lainnya, Ibuku hanya akan menenangkanku, seakan aku bisa tenang dengan kata-katanya, lupa bahwa aku hanyalah anak kecil yang belum bisa mengontrol diri. Apa pun yang aku minta harus ada. Apa pun yang menjadi hasratku harus terpenuhi.

Aku ingat ketika remaja aku menangis diputus cinta. Berminggu-minggu aku dirundung duka karena dia tak menganggap aku ada. Teman-temanku menasihatiku untuk tidak terbawa oleh emosi yang melukai diri, seakan aku bisa menghentikan tangisku dari nasihat mereka. lupa bahwa aku hanyalah remaja yang belum bisa mengontrol diri. Ketika aku menyukai seseorang, dia harus menyukaiku juga. Ketika alam sadarku menginginkannya, alam batinnya juga harus menginginkanku juga.

Semakin aku rengkuh tanya bagaimana menjadi dia yang berhasil saat seusiaku, semakin aku lupa bahwa sejatinya aku belum menjadi dewasa. Kedewasaan yang sejati adalah mengontrol keinginan untuk menjadi siapa pun selain merengkuh apa pun adanya diriku dengan segala ketidaksempurnaannya. Dengan tidak sempurna aku hidup. Dengan percaya bahwa aku telah jatuh berkali-kali maka aku sadar bahwa aku adalah manusia seutuhnya yang sanggup berdiri meski tak ada uluran tangan yang membantuku.

Aku masih setengah jalan. Tapi aku tahu jalanku benar, dan itu cukup. 

Aku telah mengontrol hasratku untuk tahu dan memiliki segalanya. Dan itu sangat cukup untuk menjadi orang dewasa yang bahagia.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top