Musuh di Antara Kita

Segelas teh hangat di hadapanmu mulai dingin

Sementara kepala kita masih memanas

Dengan tatapan yang tak pernah mau lepas

Telinga masih sanggup menampung bentakan

Sementara mulut kita masih juga berusaha saling menusuk

 

Cengeng, selalu saja aku yang berlangganan air mata

Yang tak terdengar pun tak ingin terlihat

Sekuat aku menahannya, akhirnya pecah juga

Di hadapanmu, yang menghening

 

Mengapa baru sekarang

Kau bilang kecocokan tak lagi dimiliki oleh kita?

Mengapa baru dekat-dekat ini

Kau mulai menjauh?

 

Padahal sedari dulu kita sadar, bahwa kita sama-sama api

Tak jarang kita berkutat dalam suasana yang terus meninggi

Saling bersaing seolah-olah tak ada yang ingin merasa lemah

Dan itu sama sekali tak membuat kita merasa perlu untuk berbenah

 

Di kala dunia sedang beramai-ramai mendefinisikan bahagia

Kita malah sedikit demi sedikit mulai menggugurkannya

Rasanya semua semakin gelap setiap aku membuka mata

Ketika ku sadari bahwa renggangnya kita adalah awal dari sebuah kehilangan

 

Kita kalah

Satu-satunya musuh, tak lain adalah ego kita masing-masing

Yang tak ingin meredam

Sekalipun kita sedikit memiliki kuasa atas itu

 

Sudah waktunya hatiku beranjak

Sebab tak lagi aku mampu berpura-pura kuat 

Menjadi sosok yang pernah sebegitunya diharapkan

Namun tetap terbuang pada akhirnya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top