Mau Jadi Anak Kecil (Lagi)

Waktu menunjukkan pukul dua siang. Seorang gadis kecil berusia 10 tahun duduk di lantai ruang tamu beralaskan karpet bergambar kartun biru ajaib kesayangannya. Mainan dalam jumlah yang tak bisa dibilang banyak, ikut berserakan mengelilingi tubuh mungil gadis kecil. Ada boneka kelinci, masak-masakan, dan barbie di kedua tangannya sedang dipakaikan baju. Semua mainan itu bukan dari Ibu, tapi diberikan oleh Kakak Sepupu bulan lalu. Padahal gadis kecil ingin dibelikan sepeda seperti teman-teman sebaya. Tapi kata Kakak Sepupu harus jadi orang gede dulu untuk bisa beli apa pun. Gadis kecil pun pasrah. Berharap dirinya bisa tumbuh cepat agar bisa beli sepeda.

Di sela waktu bermain, gadis kecil mendengar suara bising dari dalam rumah. Bingung siapa yang membuatnya. Seingatnya, Ibu sudah pamit membersihkan rumah tetangga agar mendapatkan uang, sekitar dua jam yang lalu.

Berbekal penasaran, gadis kecil mengendap-endap berusaha mencari tahu di mana asal suara bising itu berada. Langkah-langkah kecil miliknya terhenti di depan pintu bercat cokelat tua, mencoba mengintip dari celah pintu untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata ada seorang perempuan yang terpaut belasan tahun lebih tua dari gadis kecil sedang duduk di kasur memeluk kakinya begitu erat. Gadis kecil tidak mengetahui dia siapa. Wajahnya pun tertutup dengan helaian rambut yang sudah tidak berbentuk. 

Pelan-pelan gadis kecil melebarkan pintu. Dilihat perempuan berambut sebahu tampaknya tidak terganggu, membuat gadis kecil lebih berani menatap seisi kamar. Bola mata gadis kecil melebar, terkejut atas apa yang dia lihat dan dengar di hadapannya. Bukan, bukan hanya sosok perempuan atau tangisan yang berada di dalam kamar itu, melainkan banyaknya pertanyaan yang berada di dinding dan langit-langit kamar. Tiap-tiap pertanyaan yang punya suaranya sendiri. Suara-suara itu berusaha untuk lebih kencang, seolah sedang bertarung untuk menentukan siapa yang menang. Dan perlahan, menggerogoti akal perempuan berambut sebahu yang memicu suara tangisan, terdengar lebih kuat dari sebelumnya. Kedua tangan perempuan berambut sebahu pun ikut andil untuk memukul sisi kepala atau menarik-narik rambut hitam legam miliknya secara bergantian, berharap dapat menghentikan suara-suara sialan itu.

“Kakak itu kenapa? Bukannya enak jadi orang gede? Bisa beli permen sepuasnya?” pertanyaan polos keluar dari bibir mungil gadis kecil. 

Ia menghela napas lalu bergumam, “Apa mungkin Kakak berambut sebahu ingin menjadi seperti aku lagi?” 

Tanpa gadis kecil sadari, perempuan berambut sebahu memang menginginkan dirinya untuk menjadi anak-anak lagi, menikmati genangan air yang berasal dari langit sedang memeluk telapak kakinya malu-malu; mengajak anak seusianya untuk menari dan berteriak di bawah guyuran hujan; merengek minta dibelikan susu bantal di warung depan rumah; bermain sepeda di sore hari mengelilingi lapangan; kegirangan saat menaiki odong-odong dan ditemani nyanyian kanak-kanak dari kaset yang dibeli di pasar loak. Bukan bermandikan kebingungan dalam fase dewasa; berpikir berlebihan tentang masa depan; kikuk menentukan langkah untuk menghidupi hidup; mengatur strategi lagi dan lagi atas ekspektasi yang tak sesuai prediksi; mengemban tanggung jawab yang tak semestinya; harus berjuang mati-matian agar kelak dapat menyandang gelar ‘anak terbaik’ untuk dibanggakan layaknya piala.

“AAAAAAAAAA!!!” persis setelah teriakan perempuan berambut sebahu berkumandang, selimut serta seprai kasur ikut menjadi korban, dihempaskan ke lantai dengan kesal. Diambilnya gelas di dekat lampu tidur lalu dilemparkan ke dinding seberang penuh tenaga. Berjalan mendekati meja rias untuk menyapu habis alat-alat rias karena bedak berlapis-lapis tak akan bisa menyamarkan raut putus asa yang tercetak jelas di wajah perempuan berambut sebahu. Tanpa belas kasih, perempuan berambut sebahu terus menghancurkan barang-barang di kamar. Barangkali dengan begitu, pertarungan tak masuk akal yang diciptakan oleh suara-suara itu bisa terhentikan.

“DIAM! DIAM! DIAM KALIAN!!!” jerit perempuan berambut sebahu menggema. Deru napas miliknya tersendat-sendat seiring air mata yang tidak mau berhenti mengucur, menyapu pandangan memohon ke dinding dan langit-langit kamar; meminta belas kasih untuk sekadar diam.

Tak kunjung mendapat respons baik, tubuh perempuan berambut sebahu luruh ke lantai, menutup kedua matanya dengan tangan gemetar. Isak lirih pun terdengar. Sebuah pelukan ikut melingkupi lehernya, menghantarkan rasa hangat yang kian menjalar ke seluruh tubuh. Tunggu. Pelukan? Siapa yang berani melihat aku berantakan? 

“Kakak tahu? Setiap aku menangis, Ibu selalu mendiamkanku dan berujung pergi entah ke mana. Padahal aku mau dipeluk Ibu, tapi aku tak mendapatkannya. Rasanya sedih sekali. Aku tak mau Kakak seperti aku juga. Semoga pelukanku membantu,” cicit polos gadis kecil tertangkap begitu menenangkan di telinga perempuan berambut sebahu, memicu tangisan miliknya meledak. Kali ini bukan karena sedih, tetapi terharu. Baru pertama kali ada seseorang yang menemani saat dia sedang berantakan. 

Menyaksikan apa yang tadi dilakukan perempuan dewasa itu, bukan membuat gadis kecil takut. Malah hatinya ikut teremas. Matanya juga memanas tanpa alasan yang jelas. Sehingga dirinya tergerak mendekati perempuan berambut sebahu.

Dirasa perempuan berambut sebahu lebih tenang, gadis kecil melepaskan pelukan. Kedua tangan mungil merapikan helaian rambut yang tampak kusut di depannya. Menurunkan tangan yang menutupi wajah perempuan di hadapannya, pandangan mereka bertemu. Gadis kecil mengerjap-ngerjap lugu, “Lho, Kak, muka kita sama. Apa kita kembar? Kata Ibu, kalau orang mukanya sama berarti kembar.” Miris sekali. Bahkan dalam fase kacaunya, dia hanya ditemani diri sendiri versi mini.

4.8 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Dian Utami Handayani
Dian Utami Handayani
18 days ago

I didn’t realize my eyes have been watering while reading this short story. It’s so relatable to my current situation. Keep it going, Writer, you’ve made a meaningful story 🥺😭 ❤

Dini Dwi Anjani
Dini Dwi Anjani
18 days ago

😭😭😭😭😭

Top