Patah (dalam) Parah

Ra, aku masih di Margonda.

Masih menunggu penumpang untuk menjemput orderan selanjutnya. Aku juga sudah makan, biar nanti kalau sampai rumah, aku langsung istirahat. Kamu jangan menunggu, ya. Segera tidur.

Di tahun kedua hubungan kita, aku masih saja sering kali gagu untuk memulai percakapan. Mungkin karena itu, kamu melihat hubungan kita terlalu monoton, terlalu kaku. Sebab tidak ada pertanyaan basa-basi yang manis seperti kebanyakan hubungan romansa anak muda.

Ra, kalau saja aku diberikan kesempatan untuk bercerita; setelah pulang dari pertemuan pertama dengan ayahmu, diam-diam beliau meminta agar aku lebih giat bekerja, demi membuat putrinya bahagia dan keluargamu bangga.

Seharusnya aku bercerita, Ra.

Jadi malam ini aku tidak perlu mengantarkan kamu pulang sehabis berkencan dengan lelaki lain dalam orderan yang aku terima.

Sebab semuanya sedang aku usahakan.

Tapi, Ra, terima kasih.

Setiap rasa sakit dan kecewa, ternyata memang tidak bisa diterima pelajarannya dalam waktu dekat. Setidaknya untuk aku. Kalau dulu aku ingin sekali kamu merasakan hal yang sama menyakitkan, sekarang aku memohon lebih banyak agar kamu selalu dibahagiakan Tuhan.

Sungguh, aku takut, Ra.

Sebab patah sering kali meninggalkan bekas yang parah.

Kalau doa-doa buruk selalu dipanjatkan, kapan kita bisa bahagia?

Ra, setelah ini, mari sama-sama saling mengikhlaskan.

5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top