Beberapa waktu lalu, saya menangkap basah seorang teman saya. Sebut saja namanya Robby, sedang meringkuk di sofa, menatap ponselnya dengan posisi vertikal, sementara dari pengeras suaranya keluar musik latar yang dramatisnya lebih-lebih dari kiamat kecil. Rupanya ia sedang menonton drama Cina (Dracin) pendek. Saya tau betul Robby adalah tipe orang yang menghabiskan akhir pekan dengan film pemenang festival; dialog minim, makna selangit.
“Jangan tanya,” katanya sebelum saya sempat membuka mulut. “Gue tau ini sampah, tapi gue nggak bisa berhenti.”
Robby, yang biasanya cerewet soal sinematografi, kini takluk pada cerita tentang CEO dingin yang hobi menindas bawahannya, tapi mendadak jadi budak cinta di episode sepuluh.
Kekalahan Logika di Hadapan Algoritma
Robby menceritakan pengalamannya dengan nada antara geli dan benci. Semuanya dimulai dari algoritma TikTok. Dracin tidak datang seperti tawaran film bioskop. Ia masuk seperti iklan agresif, memotong antrean di beranda dengan potongan adegan paling krusial.
Biasanya dimulai dengan adegan tamparan, atau seorang wanita yang dilempari segepok uang. “Itu momen paling brengsek,” kata Robby. “Tepat saat rahasia mau terbongkar, videonya malah abis, anjing.”
Secara teknis, mungkin tontonan ini jauh dari kata bermutu. Aktingnya sering kali karikatural. Si jahat harus terlihat sangat jahat sampai urat lehernya keluar, dan si baik harus terlihat sangat menderita sampai kita ingin membelikannya asuransi jiwa. Tapi, dracin punya satu senjata yang tidak dimiliki film peraih Oscar sekalipun, yaitu kejam dalam memelihara rasa penasaran.
Yang menarik adalah melihat bagaimana Robby–dan mungkin kita semua–“jatuh” ke dalam pelukan dracin berdurasi dua menit dengan judul yang absurd, menurunkan standar logika demi tontonan ini. Kita tau tidak mungkin seorang miliarder bisa menyamar jadi pemulung selama tiga tahun tanpa ketahuan. Kita tau salah paham antara tokoh utama bisa selesai dalam satu menit kalau mereka bicara seperti manusia normal, bukan malah saling menatap dengan latar musik yang menggelegar.
Tapi di sinilah letak magisnya. Dracin tidak menuntut kita untuk jadi pintar. Di dunia yang setiap hari memaksa kita berpikir kritis, menganalisis data, atau berdebat soal politik, dracin hadir sebagai sebuah “panti asuhan” bagi otak yang lelah.
Fantasi ini tidak sepenuhnya dibiarkan tumbuh liar. Saat kita pakai dracin untuk kabur sebentar dari hidup yang menuntut, di Cina justru muncul kegelisahan lainnya. Narasi kekayaan instan dan kesuksesan tanpa proses dinilai tidak realistis dan berpotensi menyesatkan, terutama bagi penonton muda. Dracin yang kita tonton sambil rebahan, ternyata cukup serius sampai perlu diatur negara.
Kalau kata Robby, sih, menonton dracin adalah momen kita mengizinkan logika mengambil cuti. Kita tidak butuh kedalaman karakter atau plot yang berlapis-lapis. Kita hanya butuh distraksi tanpa menagih empati yang terlalu rumit.
Momen paling tragis dalam cerita Robby adalah ketika ia akhirnya–dengan sadar dan tanpa paksaan–mengunduh aplikasi streaming berbayar hanya untuk menonton kelanjutannya. “Gue merasa harga diri jadi jatuh banget pas pencet tombol subscribe,” katanya sambil tertawa.
Ini bukan lagi soal cerita yang bagus. Ini soal bagaimana industri hiburan berhasil memanen rasa penasaran manusia dengan cara yang sangat efisien. Mereka tau bahwa manusia modern jauh lebih sulit menahan rasa penasaran daripada menahan rasa malu. Kita rela dianggap punya selera rendah, asalkan kita tau apakah si tokoh antagonis akhirnya kena batunya atau tidak.
Mencari Jeda dari Dunia yang Menuntut
Saya mulai memahami soal kegemaran teman saya (dan mungkin kita) pada dracin “tidak bermutu” ini. Hidup sudah terlalu penuh dengan tuntutan. Di kantor, kita diminta inovatif. Di media sosial, kita diminta punya opini atas segala isu. Di lingkungan sosial, kita diminta tampil berwibawa. Dracin menawarkan sesuatu yang langka, yaitu kebebasan untuk tidak berpikir.
Robby mungkin merasa sedikit malu setiap kali notifikasi langganan aplikasinya muncul. Namun, selama ia bisa tertawa melihat CEO dingin itu akhirnya luluh, atau sekadar merasa puas melihat si mertua jahat kena batunya, mungkin harga diri yang sedikit “terluka” itu adalah bayaran yang sepadan untuk sebuah jeda.
Robby menutup ponselnya, menghela napas, dan berkata, “Anjir udah tamat. Ceritanya jelek banget, tapi gue ngerasa lega.”