Waktu Bukanlah Seorang Tabib

Tampaknya, waktu sering kali jadi penawar ampuh untuk luka. Apabila kita sudah tidak bisa menangani tubuh yang berdarah, hati yang patah, atau kehilangan yang menyesakkan, ya sudah, rasakan saja sakitnya. Biar waktu yang menggiring kita menuju dada yang lapang di kemudian hari; membawa tangis sebagai bagian pasti dari hidup.

Ketika kecil dulu, saya adalah salah satu bocah yang paling sering menangis di lapangan depan rumah. Saya ingat ketika saya jatuh sewaktu main sepak bola atau berdarah karena bablas dari ranting pohon yang rapuh. Rasanya sakit sekali dan cuma menangis yang saat itu pantas untuk dilakukan. Bahkan saya juga pernah terjungkal ke konblok, meninggalkan codet di tangan kanan lantaran kaget akan gonggongan anjing tetangga. Tanpa disadari, barangkali jatuh dan darah—secara harafiah—adalah salah satu kenangan kita sebagai anak kecil.

Lalu waktu membawa saya ke depan. Saya tumbuh, suara memecah, dan teman-teman bertambah banyak. Kini lecet-lecet kecil bukan lagi perkara besar. Terlebih, kita lama-lama belajar, terlatih, dan terbiasa untuk mengobati luka sendiri: pakai obat merah, anti memar, beli plester yang sesuai dengan tren. Meski posisi tidur kadang kala jadi ikut terganggu, saya toh kembali berlari di tanah lapang, terluka lagi, padahal cedera yang kemarin belum juga pulih. Malahan, lama-lama kepala yang bocor hanya berbuah pusing belaka.

Kemudian saat beranjak dewasa, kita mulai berkenalan dengan rasa sakit yang lain, yang sifatnya puitis dan bersarang di kalbu. Ia tidak kasatmata, juga kedap suara. Tidur semakin sulit seiring dengan usia yang bertambah padahal di siku tidak ada beset; di lutut tidak ada lebam. Butuh waktu yang lama untuk bisa bangkit dan melanjutkan hidup sebagaimana mestinya. 

Lambat laun, kita belajar, terlatih, dan terbiasa untuk menghadapi kondisi-kondisi gelap seperti itu. 

Membicarakan waktu sebagai penyembuh luka, saya pernah membaca satu renungan di situs web revi.us berjudul “Mari Kita Berbicara Tentang Waktu”. Tulisan itu meninggalkan kesan. Intinya, menurut penulis, waktu tidak pernah peduli terhadap setiap luka yang mendera. Karena tulisan tersebut sudah tidak bisa diakses di web—bahkan revi.us sendiri sudah tidak bisa dibuka—saya mencoba mencari tahu siapa penulisnya. Saya berselancar di internet dan lantas mengetahui bahwa penulis bernama Gabriella Dwiputri. Ternyata, ia sudah menerbitkan satu buku pada 2013 dengan judul The Feelings: Hati itu Masalah Buntu. 

Lewat Twitter, saya kemudian mengirimkan pesan kepada Gabriella, menanyakan di mana tulisan tersebut bisa saya baca lagi. Gabriella kemudian mengatakan jika tulisan tersebut baru saja ia unggah di blog pribadi beliau.

“Waktu tidak pernah menyembuhkan, tetapi ia melatih saya untuk menerima luka itu. Waktu itu menguatkan. Waktu membuat saya memiliki cinta yang lebih besar, untuk diri saya dan orang yang lebih pantas. Waktu membuat saya bisa menerima ambang nyeri yang lebih tinggi,” tulis Gabriella.

 

Tidak berhenti di situ, saya coba telusuri juga penelitian tentang time heals nothing. Amy Morin—seorang psikoterapis dan mental strength trainermengatakan bahwa, “I learned first-hand that time heals nothing. It’s what you choose to do with that time that makes all the difference.”

Saya jadi teringat tokoh Tony dalam serial After Life. Ia menghadapi kehilangan yang luar biasa ketika sang istri, Lisa, meninggal karena kanker payudara. Hidup Tony seketika penuh dengan duka. Tony bahkan beberapa kali sempat ingin mengakhiri hidupnya. Setelah berjalan dua season, saya tidak melihat Tony pulih begitu saja. Waktu tidak keluar sebagai pahlawan yang menjawab semuanya. Tidak. Sebaliknya, Tony justru menghidupi kesedihannya. Pada akhir episode, Tony tidak jadi bunuh diri, tidak juga sembuh total dari keterpurukan. Makna yang saya ambil dari film ini adalah hidup beserta waktu di dalamnya akan terus berjalan kendati malapetaka menerpa. Kita yang bertindak sebab waktu tidak memiliki waktu untuk memikirkan kita.

Dari renungan Gabriella, kutipan Amy Morin, serta kisah Tony, saya jadi tersadarkan bahwa kita semestinya tidak berdiam diri terlalu lama dan menyerahkan segala kesialan pada waktu. Terima segala gores dan sengsara, ambil waktu sejenak untuk beristirahat, lalu tentukan obat yang paling ampuh.  

Waktu tidak akan menyembuhkan. Ia bukanlah tabib. Waktu justru membuat kita untuk berkenalan dengan luka; membimbing kita supaya kuat menerima deru. Maka hidupi dan rayakanlah setiap detak serta detik untuk belajar, terlatih, juga terbiasa mengetahui obat terbaik bagi diri sendiri.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top