Ustadz Jaga Jarak: Tidak Perlu Menunggu Keadaan yang Baik untuk Menolong Sesama

Ustadz Jaga Jarak seakan mau mengaduk-ngaduk emosi penonton. Kali ini, bukan hanya unsur komedi dan kesedihan saja yang diangkat, melainkan, juga suasana haru. Pada episode 7, Ustaz Fahmi dan Jidan menunjukkan arti sebuah pertemanan; yakni saling topang-menopang antarsatu dengan yang lain. Hal ini juga dibuktikan lewat Faisal dan Boi sebagai mad’u yang mengekspresikan bentuk simpati terhadap sesama manusia. Sementara itu, pada episode 8, Ustaz Fahmi dan Jidan berhadapan dengan masalah keluarga di tengah situasi nan pelik. Bagaimana kisahnya? Baca lebih lanjut!

Episode 7: “Manfaat Lain Dakwah”

Berlanjut dari episode sebelumnya, kali ini, Ustaz Fahmi dan Jidan menyasar kalangan seniman yang mencari secercah pencerahan. Bedanya, Jidan enggan tampil di depan layar kamera lantaran ia memiliki banyak utang dengan teman-temannya yang berkecimpung di industri seni. Jidan bilang, ia sudah lama ditagih dan belum mampu untuk melunasi utang tersebut.

Menurut Ustaz Fahmi, dalam ajaran Islam, utang adalah kewajiban yang harus dilunasi. Jika pihak yang berhutang belum sanggup melunasi, dia wajib meminta kelonggaran atau perpanjangan tempo pembayaran. Sementara itu, pihak yang dihutangi pun wajib memberikan kelonggaran. Masalahnya, Jidan belum pernah meminta keringanan apa pun.

Masuklah Faisal dan Boy, kakak-beradik yang merupakan seniman dari industri film. Mereka mengeluhkan pemasukan yang tersendat gara-gara pandemi korona. Saya jadi ingat betapa sulitnya teman-teman di industri kreatif serta seni untuk menyesuaikan diri dengan keadaan, mengingat tidak sedikit dari mereka yang mengandalkan proyek temporal. Pada scene ini, kita bisa lihat Faisal dan Boi yang begitu banyol.

Ustaz Fahmi tidak bisa menjawab pertanyaan Faisal dan Boy mengenai kapankah wabah ini akan selesai. Akan tetapi, Ustaz Fahmi menyinggung sedikit sahabat nabi serta sedikit petuah,

“Sahabat Nabi pernah berkata begini, hanya orang gila yang bisa menjawab semua pertanyaan. Kita harus bertanya kepada ahlinya. Dalam hal ini kita harus bertanya kepada ahli wabah, ahli virus, ahli medis, bahkan kepada pemerintah sebagai pihak yang mengatur kemaslahatan masyarakat. Kalau mereka bilang wabah ini akan selesai sehabis lebaran, kita harus mempersiapkan diri kita. Kalau pemerintah juga bilang misalnya wabah ini akan selesai akhir tahun, kita harus mempersiapkan diri kita sebaik mungkin. Tapi jangan lupa, kita di tempat seperti ini, dan di kondisi seperti ini, kita harus bisa membantu satu sama lain.”

Entah kenapa, saya menangkap satire di situ. Kita tahu, banyak sekali yang mengeluhkan kinerja pemerintah dalam menangani COVID-19.

Lalu tanpa diduga, Faisal dan Boy menyadari bahwa Ustaz Fahmi berada di kamar Jidan. Mau tidak mau, Jidan harus unjuk diri ke depan kamera dan meminta maaf atas utang-utang yang belum bisa ia lunasi. Setelah Faisal dan Boy terus-menerus mencibir, Ustaz Fahmi berusaha untuk memberikan jalan tengah. Tentu Ustaz Fahmi telah mendapat banyak bantuan dari Jidan, mulai dari tempat tinggal sementara hingga kesibukan sehari-hari. Sebagai seorang kawan yang tahu arti balas budi, Ustaz Fahmi menawarkan diri untuk membantu Jidan dalam melunasi utang-utangnya, dengan syarat, Faisal serta Boy juga mau memberikan sedikit kelonggaran terkait tempo pembayaran.

Pada akhirnya, Faisal dan Boy mengikhlaskan utang-utang Jidan. Dua seniman ini setuju dengan dakwah Ustaz Fahmi bahwa dalam situasi seperti ini sudah sebaiknya kita membantu satu sama lain, apalagi, “Jidan ini juga sebenernya temen kita, Pak Ustaz,” tutur Boy.

Pada akhir cerita, ada suasana haru yang merebak ketika Jidan memeluk Fahmi. Saya melihat dua manusia, sepasang kawan baik yang sedang berjuang serta topang-menopang. Maka tidak perlu diselisik lebih jauh apa arti dari judul “Manfaat Lain Dakwah”, sudah tentu, yang dimaksud adalah merekatkan tali silaturahmi.

Episode 8: “Bukan Romeo, Bukan Juliet”

Ustaz Fahmi dan Jidan menerima tamu dengan cerita yang berbeda-beda. Kali ini, mereka bertemu dengan Rohmat dan Yuli, pasutri yang sedang mengalami kesulitan secara finansial di masa pandemi. Ditambah lagi, Rohmat sebagai buruh pabrik harus kena PHK dan Yuli tengah mengandung selama empat bulan. Mereka berdua panik. Rohmat bahkan nekat ingin menceraikan Yuli sehingga sang istri bisa menikah dengan lelaki yang lebih mapan, yang bisa menafkahi keluarga.

Ustaz Fahmi berusaha menenangkan Rohmat dan Yuli. Ia bilang, jalan keluar hanya bisa ditemukan lewat pikiran yang tenang. Seketika, Yuli semakin berang, ia bilang, “Ini udah mau lebaran ya Pak Ustadz. Semua harga naik, duit enggak ada. Yang ada cuman wabah, sama jabang bayi. Kepala siapa yang bisa dingin?”

Sejurus kemudian, Ustaz Fahmi mengucapkan sejumput ayat dari surah Albaqarah. Ayat 155 tersebut berbunyi: Wa lanabluwannakum bisyai`im minal-khaufi wal-jụ’I wa naqsim minal-amwali wal-anfusi was-samarat, wa basysyiris-sabirin. Artinya, Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

“Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya,” tambah Ustaz Fahmi.

Ustaz Fahmi berjanji untuk membantu Rohmat dan Yuli. Ia akan mencoba mencari pekerjaan buat Rohmat. Berhasilkah?

***

Episode 7 dan 8 mewadahi cerita dari teman-teman pekerja, khususnya mereka yang terdampak langsung secara finansial. Kendati Ustaz Fahmi juga memiliki kesulitannya sendiri, menurutnya, tidak ada yang salah untuk tetap berusaha berbuat kebaikan dan membantu sekitar. Bukankah tidak perlu menunggu keadaan yang baik untuk menolong sesama?

Saksikan terus serial Ustadz Jaga Jarak di kanal YouTube Menjadi Manusia!

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top