Ustadz Jaga Jarak: Serial Web yang Digarap di Tengah Pandemi

Industri hiburan mau tidak mau harus melakukan terobosan untuk dapat tetap eksis di masa-masa seperti ini. Saya lihat dunia musik pelan-pelan memulai konsep live streaming concert. Selebritas mengunggah konten-konten segar di YouTube. Dan baru-baru ini, Temata Studios bersama Menjadi Manusia menayangkan sebuah serial web berjudul Ustadz Jaga Jarak. 

Serial yang disutradarai oleh Rahabi Mandra, penulis skenario terbaik Festival Film Indonesia 2017 ini, mengangkat kisah seorang Ustaz Fahmi (Ade Firman Hakim) yang harus menjalankan ibadah puasa di tengah pandemi. Bersama temannya, Jidan (Dimas Andrean), Ustaz Fahmi mencoba untuk bertahan hidup dengan mengandalkan donasi dari dakwah singkat yang ia berikan secara online.

 

Episode 1: “Ustadz From Home”

Episode 1 merupakan pengantar yang mendeskripsikan aktivitas Ustaz Fahmi dan Jidan. Keduanya membuka ruang konferensi video di dunia maya, menunggu kaum muslim untuk datang dan bercerita bahkan mengajukan pertanyaan seputar kehidupan. Tanpa dinyana, Ibunda Fahmi merupakan orang pertama yang muncul dari balik layar. Di sini, kita bisa lihat bahwa Ustaz Fahmi dan Jidan sebetulnya tidak memiliki uang yang cukup untuk bertahan hidup di ibu kota. Di lain sisi, Fahmi juga tidak enak hati sebab belum bisa membantu sang Ibu secara finansial.

Uztaz Fahmi mulai berdakwah ketika seorang anak kecil bernama Dodi Hotwil menanyakan alasan yang mendorong Adam dan Hawa untuk memakan buah khuldi sehingga membuat manusia—kita semua—dibuang ke bumi. Pada episode ini, kita bisa terhibur melihat reaksi Jidan dalam menanggapi perangai Dodi Hotwil yang ceplos serta memberikan donasi sebesar seratus rupiah.

 

Episode 2: “Kode Rendang”

Episode 2 dibuka dengan alunan lagu yang dimainkan oleh Jidan lewat gitar kopong. Begini liriknya: 

Gara-gara Ustadz Fahmi

enggak mau minta donasi

aku lapar sekali

sungguh malang nasib ini

 

Kadang buka pake aer putih

Kadang juga pake kurma basi

Oh nasibku kini

Hidup pun nggak mau lagi

 

Dari lirik tersebut, kita bisa menebak kalau jasa dakwah dan konsultasi yang mereka sediakan belum bisa membuahkan hasil yang cukup bagi kebutuhan perut. Ustaz Fahmi lantas berargumen bahwa dakwah harus didasari dengan niat Lillahi ta’ala atau hanya karena Allah yang Suci; donasi sebaiknya berlandaskan sukarela, bukan paksaan. Akan tetapi bagi Jidan, guna mewujudkan niat tersebut, manusia harus hidup dan bertahan. Untuk itu, mereka perlu makan dan hanya donasi yang dapat diandalkan. 

Ibu Siti kemudian bergabung ke dalam konferensi video. Dia menceritakan tentang warung nasi padangnya yang sepi dari pengunjung. Ada satu kutipan dari Ustaz Fahmi yang terngiang di kepala saya, “Sebetulnya bukan rezekinya yang kurang, rasa syukurnya yang kurang. Inget, Bu, rezeki tidak harus nominal.”

Namun, lagi-lagi pertanyaannya adalah: Apakah Ustaz Fahmi berhasil mendapatkan donasi dari Ibu Siti?

 

Serial untuk Ngabuburit

Ustadz Jaga Jarak merupakan serial web pertama di Indonesia yang dipersiapkan dan digarap melalui telepon serta konferensi video. Selain sebagai cerminan bahwa dunia film sedang berupaya melakukan terobosan segar, ternyata, melalui serial ini kita bisa menyaksikan angle yang unik dari seorang Ustaz yang sedang berjuang untuk bertahan hidup di ibu kota. Durasi per episode tidak terlampau lama; dakwah yang diberikan pun terasa lekat dengan suasana bulan Ramadan.

Setiap episode baru akan tayang pada hari Senin, Selasa, dan Kamis. Tunggu apa lagi? Segera tonton di kanal YouTube Menjadi Manusia!

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top