Tentang Bertahan Hidup dari Petra Sihombing

Petra Sihombing, seorang musisi yang akhir-akhir ini seolah kembali muncul ke permukaan, membagikan ceritanya tentang bertahan hidup.

Sejak usia 13 tahun, Petra sudah akrab dengan musik. Ia mendisiplinkan diri untuk melahap 10—12 album yang berbeda per harinya lewat IPod. Tidak sekadar menikmati, rasa penasaran yang besar membuat Petra bertanya-tanya soal konsep produksi musik: kenapa gitarnya bunyinya gini?; kenapa keyboard-nya bunyinya kayak di belakang?; kenapa si drum-nya kok rasanya ruangannya gede?; bahkan, gimana caranya? Pertanyaan-pertanyaan seorang geek telah hinggap di kepala Petra sewaktu sekolah dasar hingga menengah pertama. Maka tidak heran kalau saat ini, Petra begitu produktif menjadi seorang produser, khususnya pada 2019 lalu. Lebih dari itu, Petra juga merilis lagu-lagu terbarunya yang masih berlanjut hingga saat ini. Salah satu lagu yang terngiang-ngiang di kuping saya adalah “Cerita Kita Milik Semua”.

 

Mungkin banyak yang bilang, enak jadi solois lantaran uang yang lebih banyak masuk ke kantong, tidak perlu ada drama-drama seperti anak band, atau yang lainnya. Namun di lain sisi, seorang musisi solo harus bisa menghadapi dirinya sendiri, ungkap Petra. Dalam kariernya, Petra harus mengingatkan dan memotivasi dirinya sendiri untuk terus berkarya. Sebaik-baiknya solois adalah ia yang memiliki kemampuan time management dan bisa mengondisikan mood

“Bekerja sendiri adalah lo harus jadi semua itu untuk diri lo sendiri.”

Di balik produktivitasnya hari ini, saya tidak menyangka kalau Petra pernah berkeinginan untuk bunuh diri. EP Verdict Victim yang ia rilis pada 2015 tidak berbuah begitu manis, pegangan uang yang habis, dan orang tua yang cerai terjadi dalam waktu yang berdekatan di hidup Petra. Ia kemudian harus mengampu tanggung jawab menyekolahkan adik-adiknya, membiayai ibu yang memang tidak bekerja, sampai membayar tagihan air serta listrik. Saat itu Petra tengah berada di Bali, ia menyiapkan tempat dan surat. Petra berpikir kalau bunuh diri adalah solusi terbaik bagi orang-orang di sekitarnya, mereka yang bergantung di pundaknya akan berkembang lebih mandiri.

Tapi ada suara lain. Petra mengaku seperti diutus oleh Tuhan untuk pergi ke Bali dan bergumul dengan masalah-masalahnya. Petra juga bertemu dengan orang serta lingkungan yang baru. Di momen ini, Petra sadar, banyak orang yang membutuhkannya dan ternyata itu adalah bukti bahwa ia berguna bagi orang-orang tercinta. Di sana, Petra menghadapi iman yang goyah, menemukan hal baru, dan ditenggelamkan untuk kembali terbang.

Bangun perlahan dari jatuh, Petra pun menyatakan kalau tidak ada titik balik yang spesifik. Banyak kekuatan dan alasan untuk tetap bertahan. Hal baik dan buruk bersatu padu membangkitkan sehingga Petra dapat menganggap hidup sebagai perjalanan yang seru. Petra kini sudah bisa menerima masa kelamnya dengan tertawa. Buat Petra, masalah telah berlalu ketika kita sudah betul-betul bisa mengalihkannya menjadi lelucon, memandangnya sebagai pemanis hidup dan memori yang berharga. Saya jadi ingat kutipan Charlie Chaplin, To truly laugh, you must be able to take your pain, and play with it.

“Hari ini ada masalah apa, ini yang gue selesain. Hari ini apa yang baik, itu yang gue syukuri.”

Saya rasa mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidup adalah hal yang wajar. Bernafas memang melelahkan. Namun, dari Petra, saya yakin bahwa kita bisa memilih untuk bertahan. Meski menyakitkan, hidup adalah satu kesempatan yang layak dijalani sepenuhnya. Petra membuktikan itu. Ia merangkak dari darkest days, melangkah dengan sabar. Tidak perlu terburu-buru. Ia menikmati proses untuk menjadi manusia; satu bagian kecil dari babak yang lebih besar.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top