folder Filed in Adalah, Puisi
Saling
Kami diam, sebab di setiap kepala, makna memilih kamusnya masing-masing
Yudhistira comment 0 Comments access_time 2 min read

Aku berjalan mencari sebuah ujung, berharap akan dipeluk kebahagiaan. Selalu aku bayangkan demikian: kau berwajah sayu, lugu tanpa gincu, menyimpan petang yang bisu. Bibirmu senantiasa menyunggi senyum karena mendengar ceritaku yang tiada habisnya.

 

Aku akan berkisah tentang manusia yang berenang di samudra. Pekerjaan telah menjelma air. Dan mereka mencarimu: istirahat di antara pasir putih, membakar ikan di atas perapian, atau bercinta diiringi debur ombak.

 

Seolah napas memang dihembuskan untuk melupakan hakikat bahagia. Kenapa kau pucat pasi seperti orang sakit sementara esok tiba-tiba kau bakal meledak-ledakkan canda? Yang lucu dan yang serius menjadi nama belakangmu. Silih berganti seenaknya seperti cuaca.

 

Ketika seorang guru mengajak kami untuk mendefinisikanmu di depan kelas, tidak ada satu pun yang bangkit dari duduk. Kami diam, sebab di setiap kepala, makna memilih kamusnya masing-masing. Aku pun hanya bisa membayangkan: kau berwajah sayu, lugu tanpa gincu, menyimpan petang yang bisu. Kau pun tetap tersenyum, seolah-olah berkata, kau tidak tahu apa-apa tentang kebahagiaan.

 

Benar barangkali. Kita tidak akan pernah tau pasti. Dan bersyukurlah mereka-mereka yang tidak tau, suatu saat nanti punggungnya akan membentangkan sayap, untuk bebas dari definisi, dari apa-apa yang sudah terpatri.

 

Tak ada gunanya aku mencari, bahkan sampai di ujung, dipeluk olehmu, jika di perjalanan itu telah aku bunuh nyawa-nyawa lainnya. Selagi itu, pantai kita makin tenggelam. Dan orang-orang membakar ikannya sendiri-sendiri. Menyantap sunyi. Tidak ada dongeng sebelum tidur, tidak ada musik. Mereka bercinta, sendiri-sendiri. Bahagia laksana kesepian.

 

Happiness only real when shared. Betul-betul ungkapan yang jujur. Aku butuh orang lain supaya bahagia tercipta. Kita butuh lawan agar bisa bermakna. Biar satu adalah guna bagi yang lainnya.

 

Kali ini, kau takkan lagi berwajah sayu. Pada petang itu, yang ada ialah gelak tawa kita serta nyanyian-nyanyian lama. Dengan demikian, kau pun tak akan mengejekku lagi. Aku bukan olokanmu, dan kau bukan tujuanku.

 

Kami mengecup. Kami saling mengecup.

Kita mengecup. Kita saling mengecup.

Kita saling.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment