Sadarlah, Bahagialah

Ada seseorang yang sedang mencari rumah baru. Ia mengidamkan sebuah tempat tinggal yang besar dan megah agar semua barang—yang saat ini tersebar di beberapa gudang sewaan—bisa ikut tertampung. Maklum, ia tidak suka membuang masa lalu. Baginya, setiap benda mencerminkan perjalanan: beli di mana, siapa penjualnya, berapa harganya, bahkan apa yang ia alami bersamanya. Ia suka sekali berlama-lama di dalam gudang untuk mengenang kembali cerita di balik hartanya, satu per satu.

Berangkat dari selera, ia mempertimbangkan lokasi rumah baru, melihat warna catnya, besarnya, jumlah kamar, dan lain-lain. Setelah cocok, tanpa ragu-ragu ia langsung membayar lunas. Selang satu minggu kemudian, kurir mulai berdatangan mengantar barang seperti merangkai cerita besar dari pecahan-pecahan puzzle. Tidak berhenti di situ, ia pun membeli perabotan-perabotan lain dari toko online. Dicarinya inspirasi seputar interior dan dekorasi rumah serta mempelajari jenis-jenis tanaman untuk menghiasi rumah barunya. Barangkali setiap sudut dan setiap ruang, pada akhirnya, akan mewadahi cerita-cerita kehidupan sang tuan rumah; sebuah autobiografi yang panjang. 

Suatu hari, ia ongkang-ongkang menyambut petang di serambi depan. Aroma teh hijau mengepul dari cangkir blirik; pisang goreng menyembulkan wanginya. Tiba-tiba saja, bersamaan dengan angin yang berhembus, sebuah tanya melintas di kepalanya. Apa arti bahagia? Ia terheran-heran.

Selama puluhan tahun hidup dan berkelana ke banyak dataran juga lautan ternama, baru hari ini ia menanyakan hal tersebut. Apakah baru sempat ia merenung? Atau, justru selama ini, kebahagiaan adalah titik kecil dan tak tersentuh di atlas yang selalu ia bawa?  

Dengan rasa penasaran, ia pergi ke gudang di belakang rumah. Luas sekali. Dindingnya terbuat dari kayu jati, rak dan lemari penyimpanan menguarkan bau gaharu. Di sana, arsip-arsip dibongkar, dokumen-dokumen yang menuliskan riwayat hidupnya digeledah dengan teliti. Khidmat sekali, seperti berdoa. Ia renungi juga barang-barang yang terletak di rak kaca raksasa: pernak-pernik dari Mediterania, foto-foto panorama Oseania, hingga bukti pembayaran tiket terbang ke Panama.

Gudang layaknya kamus yang merekam segala arti dalam hidup seseorang. Hanya satu kata yang saat ini ia cari. Satu kata dengan tujuh huruf. Itu saja.

***

Barangkali, kita adalah tokoh pada kisah tersebut, seseorang yang sangat sibuk mencari makna bahagia dalam hidup yang tercinta, perjalanan yang telah kita beli dan kita tempuh, dan kenangan-kenangan yang tersampir. Andai saja saya bisa menasihati ia, saya akan bilang, “Sudahlah, tidak usah dicari-cari. Tidak ada gunanya. Ia ada. Tapi tidak perlu dicari.” 

Namun seperti yang kita ketahui, tentunya percuma, ‘kan? Toh, meskipun gudangnya kelu, ia bakal terus-menerus bertanya, semakin hari semakin gencar mencari karena ia begitu bahagia mengejar arti bahagia itu sendiri.

Buat saya, bahagia selalu ada di setiap keputusan yang kita buat. Bahagia bisa saja muncul begitu saja atau mengendap terlebih dahulu lalu meledak di kemudian hari. Yang jelas, bahagia datang untuk berpamitan demi pertemuan berikutnya yang sesuka hati. Ia kecil, cuma satu kata dengan tujuh huruf, titik mungil di atas atlas sehingga jari kelingking kita tidak mampu menunjuknya dengan presisi. Walaupun demikian, ia pun besar makna, segala bahasa telah berupaya menerjemahkannya dan tak ada satu pun yang berhasil. 

Bahagia sering kali membias di antara mimpi-mimpi pongah, kamus besar, pengalaman hidup, bahkan cerita-cerita mabuk seperti ini. Berbahagialah kita yang berani untuk sadar.

***

Menjadi Manusia dan Tokopedia berkolaborasi untuk merayakan kebahagiaan kecil di sekitar kita. 50% keuntungan dari setiap pembelian produk merchandise edisi Menjadi Manusia X Tokopedia akan dialokasikan untuk teman-teman Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) bersama Kopi Panas Foundation, dalam bentuk COVID-19 Care Package. Silakan menuju tautan bit.ly/bahagiaajadulu, ya!

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top