Ramadan yang Senyap

Beberapa waktu yang lalu saya mengantar ibu kontrol rutin ke rumah sakit dan mampir ke indekos untuk membereskan pakaian kotor. Jalanan memang tetap padat, namun tidak seramai biasanya. Saya memandangi jalanan dari kaca mobil, melihat langit yang begitu cerah, dan menyadari satu hal: Ramadan kali ini punya suasana yang berbeda.

Saya sering dengar teman yang mengatakan, “Suasana puasa udah mulai terasa, nih.” Saya kira ungkapan tersebut bukan gurauan belaka. Memang bulan Ramadan seolah memiliki atmosfer yang berbeda. Tukang es buah mulai berderet berjualan, gorengan mendapat lampu panggung, dan sebagian banyak berlomba pulang sebelum beduk ditabuh. Terdengar suara sumbang anak-anak dari mikrofon masjid; persiapan perang sarung; pemuda-pemudi curi-curi pandang setelah salat tarawih. Damai namun semarak.

Apa yang berbeda dari Ramadan kali ini? Menteri Agama, Fachrul Razi telah menerbitkan surat edaran terkait Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441H di tengah pandemi. Di dalamnya, terdapat imbauan untuk menjalankan salat tarawih di rumah masing-masing, begitu juga dengan sahur, buka puasa, tadarus, dan iktikaf. Bukan tidak mungkin kita akan tetap mengadakan buka puasa bersama lewat video call.

Selain itu, takbiran juga akan dilaksanakan di dalam masjid atau musala dengan pengeras suara, tanpa berkeliling. Bahkan saya rasa, suara petasan tidak akan semeriah biasanya. Sebagai puncaknya, kini kita tengah menunggu Fatwa MUI mengenai panduan menunaikan ibadah salat id yang selama ini dilakukan secara berjamaah di masjid atau lapangan terbuka.

WHO juga telah mengedarkan panduan guna menjalankan ibadah di bulan penuh suci ini meskipun pandemi belum bisa dijinakkan secara maksimal. Panduan berjudul “Safe Ramadan Practices in the context of the COVID-19” ini tidak hanya semata-mata meminta kita untuk membatalkan rangkaian acara yang telah tersusun rapi. Namun, WHO juga memberikan alternatif yang bisa dilakukan untuk menjalankan ibadah, mengadakan buka puasa bersama, dan merayakan kemenangan di bulan Ramadan dengan langkah-langkah yang aman demi memitigasi risiko pemaparan virus. Contohnya, kita bisa menghelat acara buka puasa bersama di ruangan terbuka. Jika terpaksa diadakan di ruangan tertutup, pastikan tempat tersebut memiliki sirkulasi udara yang baik beserta ventilasi yang memadai. Penting untuk digarisbawahi, bahwa alternatif-alternatif tersebut harus sejalan dengan regulasi pemerintah di setiap negara.  

“If Ramadan gatherings are allowed to proceed, measures to mitigate the risk of COVID-19 transmission should be implemented.”

Meskipun demikian, saya rasa kita sebaiknya mengupayakan silaturahmi atau halalbihalal yang berpusat di ruang maya. Kita juga bisa memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada saudara-saudara serta keluarga melalui mobile transfer. Lebih dari itu, sudah sepantasnya juga kita memberikan semangat kepada beberapa teman dekat yang belum tentu bisa merasakan kemenangan bersama orang-orang tercinta. Kendati imsak dan magrib bakal senyap, kita bisa mengirimkan mereka makanan, mengatur jadwal video conference layaknya buka bersama angkatan di sekolah, menyempatkan Netflix Party, dan lain-lain.

“If cancelling social and religious gatherings, where possible, virtual alternatives using platforms such as television, radio, digital, and social media can be used instead.”

Tentu yang membuat Ramadan ini berbeda adalah berkurangnya intensitas tatap muka langsung. Selain menahan haus dan lapar atau mengontrol emosi karena terlalu lama di rumah, kita juga menahan diri untuk bertemu, memelihara rindu, serta menguras apa-apa yang ternyata telah meluap. Meski imsak dan magrib bakal senyap, bukankah ini layak dilakukan demi merencanakan pertemuan di Ramadan lain waktu; memeluk yang terkasih tanpa takut saling menularkan?

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Riska Dea Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Riska Dea
Guest

Sediiiiiii

Top