Proses: Ruang Penuh Kejutan

Namanya perjalanan, panjang dan berliku; namanya proses, penuh kejutan.

Selepas pembagian rapor kelas 1 SMA pada semester genap, saya menorehkan nilai rata-rata yang cukup untuk masuk ke kelas pengetahuan alam. Di sisi lain, skor tersebut pun mampu membawa saya menduduki bangku pengetahuan sosial. Intinya, saya bisa memilih: IPA atau IPS, dan saya tidak tahu apa yang saya mau.

“Masuk IPA aja. ‘Kan kalau nanti ternyata nggak cocok, bisa pindah,” kata Mama dengan nada enteng, seolah kebingungan saya hanyalah piring kotor yang belum dicuci.

“Iya, IPA ajalah. Lebih terjamin,” kata yang lain. Apa pula yang terjamin? Batin saya waktu itu. Akhirnya, sebagai remaja yang tidak tahu apa-apa soal rimba raya di luar sana, saya cari aman saja: duduk di bangku terdepan, menghadap ke papan tulis yang penuh angka.

Hari-hari berikutnya adalah kedekatan saya dengan perkara-perkara aljabar, variabel X, Y, Z, beserta kelipatan-kelipatan dan persamaan. Bukan cuma itu, rumus menghitung kecepatan dan jarak beserta tabel periodik unsur-unsur kimia pun saya hafal di luar kepala.

Untungnya, ada satu regulasi unik di sekolah saya. Di sekolah homogen yang semua muridnya adalah laki-laki, jika saya berhasil mencatatkan nilai rata-rata sebesar 8.00, saya boleh membiarkan rambut di kepala terjuntai sepanjang mungkin. Saat itu, rambut menjadi bukti seberapa pintar atau rajin seorang murid di sekolah saya.

Berkat peraturan tersebut, saya tentunya terdorong untuk rajin belajar. Saya sadar bahwa saya tidak memiliki kemampuan untuk memahami sesuatu dalam waktu yang cepat. Saya butuh proses yang lebih lama dalam menerima informasi, menyerap, meragukan, dan mempraktikkan. Hal ini coba saya hadapi dengan kerja yang lebih giat, yakni jarang absen, ikut pelajaran tambahan, bolak-balik bertanya, serta rajin mencatat. Kendati babak belur, upaya ini membuat saya setia bertengger klasemen lima besar pada setiap semester. Keluarga saya lantas semakin yakin bahwa saya bisa lulus SMA dengan nilai baik dan mampu melanjutkan pendidikan di universitas negeri ternama.

Saya tidak tahu apa yang saya mau. Lagi-lagi, kebingungan memekak di benak. Saya tidak pernah berpikir jauh sebab hal itu sangat melelahkan. Namun adakalanya, niatan untuk menikmati momen hari ini dan jangan ambil pusing tentang yang ada di depan juga bisa berujung pada perasaan tertinggal. Kita yang terlalu santai bisa merasa terasing di tengah lingkungan yang demikian bergelora. Tidak salah, tapi tidak mengenakkan. Ketika teman-teman lain begitu rajin belajar untuk jurusan kuliah yang mereka incar dan target jangka panjang, saya hanya ingin memanjangkan rambut. Itu saja. 

Maka ketika ditanya jurusan apa yang saya minati, saya jawab saja dengan penuh lagak: Arsitektur. Padahal saya tidak tahu apa-apa. Saya cuma menganggap bahwa menggambar rumah adalah pekerjaan yang keren, sebuah peleburan kalkulasi eksak dengan ekspresi seni. Untuk mengejar itu, saya kemudian mengikuti kelas bimbel. Saya bahkan mendaftarkan diri di kelas menggambar untuk mengasah kemampuan yang sejatinya dimiliki oleh seorang arsitek. Daftar presensi saya isi dengan rajin, catatan saya lengkap, dan saya jarang sekali terlambat masuk kelas.

Namun, percayalah, dunia memiliki ribuan cara untuk membuktikan bahwa kerja keras bakal mengantarkan kita ke tempat yang tidak terduga; bahwa tujuan yang kita anggap luhur itu tidak lebih dari sekadar tepi—yang wajib kita singgahi—dan petualangan tidak semata-mata berhenti di sana. Singkat cerita, tidak ada universitas yang mau menerima saya sebagai mahasiswa arsitektur. Dengan kesadaran penuh, saya lantas memilih sastra dan lulus dengan nilai memuaskan. Tidak pernah terbayang jika minat baca-tulis yang hanya saya luapkan pada waktu luang adalah sebuah titik berangkat, benih yang ternyata sudah saya asuh sejak jauh hari.

Namanya perjalanan, panjang dan berliku; namanya proses, ruang penuh kejutan. Saya lalu mengetahui bahwa selain membimbing kita untuk bangun, kegagalan adalah pelajaran yang juga mendidik kita untuk sadar: Apa yang selama ini kita impikan dan terkubur dengan ekspektasi orang lain? Hasrat apa yang sempat tertidur karena kita tidak bisa meyakinkan diri sendiri? Jika suatu saat nanti ada mesin waktu dan saya bisa tamasya ke masa lalu serta masa depan, saya tidak akan ke mana-mana, enggan mengubah apa-apa. Semua sudah dan akan pada tempatnya, pada waktunya.

2
Leave a Reply

avatar
2 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
AnggraAnnies Afifah Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Annies Afifah
Guest
Annies

Aku banget 🙂

Anggra
Guest
Anggra

Keren banget

Top