Perisak, Pelawak, dan Penonton yang Terbahak-bahak

Bullying (perisakan atau perundungan) adalah bentuk penindasan. Berarti, ada yang punya kekuasaan untuk melakukan kekerasan, pengancaman, paksaan, serta pelecehan lalu berujung pada luka, depresi, trauma, bahkan bunuh diri. Tentunya kita telah melihat bentuk-bentuk perisakan baik di ruang maya maupun di kehidupan nyata. 

Kebetulan, saya baru saja menamatkan serial dari Amerika, Prison Break. Pertama kali mengudara tahun 2005 di stasiun televisi Fox Broadcasting Company, film ini menayangkan 5 season dengan 90 episode yang mengisahkan kakak beradik bernama Lincoln Burrows dan Michael Scofield. Burrows dituduh melakukan pembunuhan yang sebetulnya tidak pernah ia lakukan, ditangkap, diisolasi di dalam penjara Fox River, dan dijatuhkan hukuman mati. Sebelum eksekusi tersebut terjadi, Scofield, sang adik, berusaha membebaskan Burrows dengan menjebloskan diri ke penjara yang sama.

Di penjara itulah Burrows dan Scofield berkawan dengan beberapa napi. Mereka tergabung ke dalam sebuah grup, bahu-membahu untuk kabur dari Fox River. Adalah Theodore “T-Bag” Bagwell, salah satu tokoh yang sering merisak tahanan-tahanan muda. Dipenjara sebagai seorang rasis, nekrofilia, penculik, pembunuh, dan pedofil, Robert Knepper—pemeran karakter Bagwell—mengatakan bahwa, “He’s (T-Bag) a raw animal.”

Pada episode-episode awal, saya begitu kesal dengan tabiat T-Bag. Selama berperan dalam setiap season, Bagwell rela melakukan apa saja demi memenuhi keinginannya. Wataknya licik, seorang pengkhianat bermulut besar, dan penindas. Salah satu tahanan remaja di Fox River, Seth Hoffner, bahkan bunuh diri lantaran tidak kuat berada di dalam satu sel bersama Bagwell. Tentu perisakan memiliki dampak pada kesehatan mental korban. Merasa terkecilkan, terkucilkan, tidak berguna, hingga tidak pantas untuk hidup bisa disebabkan oleh tindakan bully. 

Akan tetapi, saya percaya bahwa tidak ada tokoh yang benar-benar putih atau hitam, dalam artian, ada hal-hal yang tidak kita ketahui tentang Bagwell; bahwa pengalaman di masa lalu kadang turut membentuk siapa kita hari ini. 

Benar adanya, Bagwell ternyata juga merupakan korban perisakan. Ada satu scene yang menceritakan Mr. Bagwell, ayah kandung T-Bag, tengah melakukan pelecehan seksual terhadap anaknya sendiri. Penderitaan Bagwell yang telah dirisak sejak dari rumah bertambah ketika ia merasa dikhianati oleh sang pujaan hati, Susan Hollander, yang melaporkan ke polisi dan menjebloskan Bagwell ke dalam penjara. Padahal saat itu, berkat Susan, Bagwell hampir sampai pada titik balik di kehidupannya.

Dari perjalanan hidup Bagwell, saya melihat bahwa perisakan sering kali menjadi rantai penindasan. Satu yang direpresi berpotensi untuk mengintimidasi yang lain. Memutus rantai tersebut barangkali bisa dianalogikan seperti sulitnya memercayai orang lain ketika kita berkali-kali dikhianati.

Namun jangan lupa, tidak semua perisak pernah dirisak; tidak semua perundung sempat dirundung. Praktik bully yang lahir dari memori atau pengalaman tertindas hanyalah sampel kecil. Selebihnya, perisak juga tumbuh berkat besarnya kekuasaan serta banyaknya kesempatan untuk meraup kepuasan pribadi atau keuntungan tertentu.

Memasuki era digital, kini perisakan bisa dilakukan lewat sekali klik saja. Boleh jadi, ada hati yang terluka atau nyawa yang melayang sebab kata-kata yang menyakitkan, tanda koma yang tajam, atau paragraf yang ofensif. Kadang kala mereka berlindung di balik kelakar; bahwa kita cuma bercanda, tolong jangan tersinggung. Jika memang demikian, barangkali sebaiknya kita berhenti menjadi pelawak dan penonton yang terbahak-bahak. Sungguh, tidak ada yang lucu.

4 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top