Menyingkap Kebersamaan

Saya rasa, kebersamaan adalah tema yang telah kita bicarakan sejak lama. Banyak peristiwa yang membuktikan bahwa kebersamaan merupakan salah satu kebutuhan manusia. Di dalam rumah misalnya, hidangan yang lezat bakal terasa kurang jika dilahap sendirian dan kopi di pagi hari jadi semakin pahit sebab tiada yang menemani duduk di beranda. Bukankah tidak mengenakkan kalau kita berada di antara bangku-bangku kosong di hadapan sinema layar lalu berjalan pulang dipayungi lampu jalan tanpa beriringan dengan sesiapa?

Selain kejadian-kejadian di atas, bagi saya, kebersamaan bukan semata-mata tatap muka, melainkan juga meliputi pemberian serta penerimaan. Saat satu menjual dan yang lain membeli, mereka sedang bersama-sama melakukan transaksi. Saya menulis dan kamu membaca, kita berada di dalam pusaran pesan. Kalian bersama-sama menolak tindak diskriminasi terhadap kaum transpuan ketika kamu dan dia mengecam dalang di baliknya. 

Lalu ketika Glenn Fredly dan The Godfather of Broken Heart berpulang, kita membaca obituari singkat di media sosial, ucapan belasungkawa dari teman-teman seperjuangan, kemudian ikut berduka meskipun kita belum pernah memasukkan lagu-lagu mereka ke dalam playlist sehari-hari. Dalam hal ini, ada perasaan yang merangkul perasaan; membentuk simpulan yang intim untuk bersama-sama memanjatkan doa.

Akan tetapi, kita sama-sama paham, segala yang berlebihan akan membuat kita muntah. Tidak semuanya wajib dilaksanakan bersama-sama. Kolaborasi terkadang membunuh prinsip dan tak jarang orang lain hanya menjelma beban yang sebetulnya tidak perlu kautanggung.

Saya membaca artikel “On togetherness (Or, on relationships and distance)” yang ditulis oleh Zainab Bawa, CEO Perusahaan Hasgeek yang berpusat di India. Menurutnya, “Togetherness is a state, not a way of being, all the time. States change as individuals and their minds and world views change. The value and meanings we assign to togetherness also change as our states change.” Kita perlu memahami bahwa kebersamaan adalah tahapan. Nantinya, mereka akan berbuah kenangan, bahkan tujuan yang sama sekali baru. Setiap waktu yang bergulir tidak harus dirayakan bersama keluarga dan tidak setiap perjalanan membutuhkan seorang teman.

Toh, setelah melahap makanan di atas meja bersama keluarga, kita kembali ke kamar masing-masing. Ayah mengambil dasi yang tertinggal lalu berangkat ke kantor, Mama membaca buku di kamar, dan saya bersiap-siap menulis. Lampu jalanan berhasil dilewati, di sana seseorang telah menunggu. Engkau pertama-tama menyampaikan maksud, kemudian melamarnya sekaligus membunuh kesepian yang sedari tadi memburu tengkuk. Bersama atau sendiri bak masa yang semakin dikejar semakin cepat melesat. Semuanya akan kembali ke tempatnya yang paling tepat.

Buat saya, yang terpenting dari kebersamaan adalah beriringan, satu napas, satu maksud. Jarak dan sentuhan, apalagi tatap muka, bukanlah perkara yang menghalangi. Lambat laun, dari kebersamaan kita bisa mempelajari arti kesetiaan.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top