Hal-hal yang riuh membuat kepala saya jadi tidak jernih. Sulit rasanya menyepi, menarik napas dengan tenang atau mendengar detak jantung sendiri saat sedang berbaring di atas kasur.

Bukan hanya karena kebiasaan untuk selalu mengecek masa depan atau cemas nanti malam makan apa. Kini, seperti terlalu banyak ikatan dalam hidup. Meski saya sudah menentukan, siapa orang-orang yang memang setia menjaga dan mendukung saya, kadang, mereka menjelma hantu yang kelak akan mengubur diri saya sendiri. Relasi yang telah saya yakini bermanfaat bisa juga membebani. Mengapa? Karena setiap orang berubah, saya pun demikian. Ketika saya harus keluar kamar dengan keadaan yang tidak stabil, segala hal positif bisa berbuah toksiktidak sehat. Lebih-lebih, kita berpotensi membawa pengaruh buruk bagi sesama.

Semua orang bisa menjadi racun. Kadang kala keluarga bukan rumah untuk setiap luka dan sahabat tidak akan selalu mendengar segala keluh kesah. Namun, perlu diingat bahwa kita selalu punya kesempatan untuk memilih obat terbaik bagi diri sendiri. Mencari tempat lain yang mampu membahagiakan kita bukan berarti berhenti mencintai orang-orang terdekat.

Masalahnya, mencukupkan ikatan serta menyudahi hubungan toksik di kehidupan nyata belum cukup membuat saya tenang. Masih ada internet, mata yang mengintai di mana-mana. Ratusan pesan, segelintir berita, dan sederet notifikasi yang menguras tenaga terus mengalir, bahkan memupuk kebencian. Coba lihat, berapa jumlah grup WhatsApp di ponselmu? Apakah Instagram dan Twitter betul-betul membuatmu hidup?

Menjadi online kerap kali meminta mata untuk terus melek. Lalu saya bakal sulit bangun subuh, suhu badan tidak enak diguyur air dingin, jalan gontai, dan tidak fokus beraktivitas. Toksik, bukan? Ketika jemari otomatis memijat logo Instagram selepas bagun tidur, saya sudah terjerat dengan kebiasaan yang tidak sehat.

Megan Holstein, penulis dan penyunting asal Amerika menceritakan pengalamannya soal minimalist phone. Ia memulai dari pengaturan homescreen, mengelompokkan aplikasi, dan mematikan notifikasi yang tidak penting. Selanjutnya, ia menyeleksi aplikasi, bahkan menghapusnya. Dalam artikel lain, “The 5 Step Guide to Breaking Your Phone Addiction, for Good”, Holstein bercerita bahwa menghapus aplikasi bukan berarti menghilangkan candu.

“When you eliminate a bad habit, the trigger for the habit is still there. If you don’t replace that trigger with a new positive habit, the old negative one will reassert itself.”

Holstein mengalihkannya dengan mengunduh aplikasi-aplikasi yang bisa merangsang produktivitas dan kreativitas. Sejumlah rekomendasi yang ia paparkan adalah Duolingo, ProgrammingHub, VocabularyBuilder, Magnus Trainer, Elevate, dan Brilliant. Bukan saja merasa lapang dan sederhana, Holstein bahkan mampu memanfaatkan waktu luangnya untuk menjalankan hobi. Pada 2019, ia melahap 77 buku.

Saya mencoba menerapkan sebagian langkah yang diceritakan Holstein, mulai dari mengelompokkan aplikasi, menggunakan wallpaper yang ramah di mata, juga membatasi diri untuk membuka media sosial. Setiap kali selesai berselancar di Instagram, saya bakal memencet log out. Beberapa kali saya juga menyisir daftar following dan berhenti mengikuti mereka-mereka yang tidak berperan penting dalam hidup saya. Kadang mereka membuat kepala pening, mengganggu kesehatan, dan menstimulus kita untuk menjadi racun dalam kehidupan nyata. Ah, kalau saya unfollow mereka, saya toh tetap hidup. Jika saya keluar dari akun selepas bermedia sosial, saya bisa melakukan kegiatan lain yang lebih menyenangkan. 

Saya kemudian mengunduh aplikasi yang mendukung hobi saya, seperti Medium, Manga Rock, IPusnas, Music Theory Helper, dan Bandcamp. Barang 2030 menit sebelum tidur, saya membaca buku. Sehabis bangun, saya hanya membalas pesan-pesan penting lewat ponsel, lalu mengambil gitar. Ibaratnya, senam jari.

Saya tahu ini baru permulaan, langkah kecil demi menuju diri yang lebih kokoh. Saya sedang membangun lingkungan yang bersih, steril dari penyakit. Kendala yang muncul akan saya anggap sebagai pengalaman berharga. Bukan tugas orang lain untuk menyelamatkan saya. Ketenangan bergantung pada leher saya sendiri dan sebisa mungkin saya mesti memilih: siapa yang mencekik, siapa yang menghidupkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment